TEKNIK PENGOLAHAN AUDIO DAN VIDEO

A. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan Setelah mengikuti seluruh tahapan pada kegiatan belajar ini, peserta dapat mengolah audio dan video.

B. Sub Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan 1. Dapat mengidentifikasi bagian-bagian kamera video. 2. Dapat menguraikan prinsip kerja kamera video. 3. Dapat menglasifikasi berbagai jenis kamera untuk memroduksi film. 4. Dapat menguraikan makna dan unsur-unsur sinematografi. 5. Dapat menguraikan makna dan perbedaan antara shot, scene, dan sequence 6. Dapat mengidentifikasi unsur-unsur pembangun rangkaian gambar bergerak bernuansa sistemis. 7. Dapat mengambil gambar bergerak dengan 3 variasi sudut pengambilan gambar. 8. Dapat mengambil gambar bergerak dengan 3 variasi bidang pandang. 9. Dapat mengambil gambar dengan mengatur pergerakan kamera panning dan tilting. 10. Menginstall aplikasi editing video 11. Dapat menggunakan Adobe Premiere sebagai aplikasi editing video. 12. Dapat menggunakan Adobe Premiere editing audio.

C. Pokok-pokok Materi 1. Kamera Video 2. Sinematografi. 3. Teknik Pengambilan Gambar Bergerak. 4. Tata Cahaya. 5. Editing Video 6. Merekam dan Editing Suara

D. Uraian Materi 1. Kamera Video Kamera video (Video Camera Recorder) adalah kamera elektronik untuk menangkap gambar bergerak (Motion) dalam format video. Kamera video sendiri dalam perkembangannya dimulai dari kamera video analog dan berkembang menjadi kamera video digital. Di era modern, cara kerja kamera video analog sudah banyak ditinggalkan. Karena fungsi kamera video dan kualitas yang dihasilkan kamera video digital lebih bagus dan lebih mudah dikelola. Gambar 3. 1. Kamera Video Dalam kegiatan produksi video/film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pada dasarnya peralatan kamera untuk produksi film terbagi menjadi tiga, yaitu consumer, prosumer dan professional.

a. Kamera consumer Kamera consumer didesain untuk keperluan sehari-hari dengan kecenderungan pengguna kalangan yang memiliki hobi di bidang videografi. Ciriciri kamera consumer: 1) Fitur yang disediakan serba otomatis. 2) Harga relatif lebih murah. 3) Tidak tahan banting dan cenderung lebih ringkih. 4) Memiliki resolusi gambar yang rendah, SD-SDTV (Standard-definition television). Gambar 3. 2. Contoh kamera Consumer

b. Kamera Prosumer Kamera prosumer kadang dikenal sebagai peralatan home industry, digunakan untuk produksi yang sedikit lebih berat dan kadang-kadang memberikan beberapa fitur profesional (misal: lensa kamera dapat diganti dengan lensa film) tetapi masih memiliki banyak fitur otomatis seperti yang terdapat pada kamera consumer. Karena sifatnya kombinasi portabilitas dan kualitas, maka kamera jenis ini lebih rendah biayanya dibandingkan dengan kamera professional, sehingga para professional pun terkadang menggunakan kamera ini dengan menambah berbagai kombinasi alat yang lain, misalnya penggunaan lensa. Kamera prosumer memiliki ciri-ciri: 1) Penggunanya adalah home industry atau mendekati professional. 2) Sudah memiliki beberapa fitur manual. 3) Harga lebih mahal dibanding kamera consumer. 4) Tidak tahan banting tetapi tidak ringkih. 5) Mempunyai resolusi gambar yang cenderung lebih baik dari kelas consumer namun masih SD SDTV. Ada yang sudah HDTV (high definition television) namun harganya masih mahal. Gambar 3. 3. Contoh Kamera Prosumer

c. Kamera Professional Kamera professional dirancang khusus untuk kebutuhan produksi yang tinggi dengan tingkat pemakaian yang berat, berkualitas tinggi pada semua aspek komponen, termasuk lensa. Mempunyai ciri: 1) Pengguna sebagian besar profesional broadcast industri besar di dunia pertelevisian dan Production house (PH). 2) Fitur manual karena membutuhkan beberapa pengaturan dalam penggunaannya. Tersedia fitur otomatis, namun gambar yang dihasilkan kurang bagus.

3) Harganya mahal. 4) Memiliki standar fungsi yang tinggi, resolusi HDTV dengan warna yang tidak mengalami distorsi. 5) Sangat stabil dan handal. 6) Cukup kuat dan tahan segala kondisi seperti getaran, guncangan, debu, dan panas. Gambar 3. 4. Contoh kamera professional Pada dasarnya, setiap kamera video terdiri dari tiga bagian, yaitu lensa, body camera dan video camera recorder. a. Lensa Lensa pada kamera berfungsi sebagai sebuah mata bagi kamera, hal yang paling utama dalam menentukan apa dan bagaimana kamera akan melihat subjek dan seberapa baik pandangan yang ditransmisikan ke chip sensor kamera. Lensa mempunyai fungsi menangkap obyek secara optik yang menghasilkan gambar dan di teruskan kepermukaan tabung kamera (nantinya oleh tabung kamera diubah lagi dari optik ke elektrik). Jenis lensa dibedakan menurut Focal Length yakni panjang jarak antara pusat optik lensa atau dengan titik di mana gambar terlihat dalam keadaan focus (sensor kamera). Focal Length biasanya diukur dalam satuan milimeter. Gambar 3. 5. Lensa Kamera

Ada beberapa kontrol yang dapat dilakukan lewat lensa saat pengambilan gambar yakni zooming dan focus. Zooming adalah pergerakan lensa kamera sehingga membuat gambar terlihat seolah-olah kamera mendekat atau menjauhi subjek, pergerakan tersebut dilakukan oleh lensa secara optik dengan mengubah panjang focal lenght dari sudut pandang sempit (telephoto) ke sudut lebar (wide angle). Zooming dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara manual dengan memutar ring zoom pada lensa dan kedua dengan menggunakan tombol zoom servo yang ada pada handle camera sehingga terjangkau jari pada waktu mengoperasikan kamera. Focus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu. Gambar dikatakan fokus apabila proyeksi gambar yang dihasilkan oleh lensa jatuh di permukaan tabung atau CCD jelas dan tajam, sehingga nampak juga di view finder dan monitor kamera/lcd. b. Body Camera Body camera berisi tabung pengambil gambar (pick up tube) yang berfungsi untuk merubah gambar optik yang dihasilkan lensa menjadi sinyal elektrik. Gambar 3. 6. Body Camera Di body camera ini biasanya juga di lengkapi dengan beberapa fasilitas kamera seperti: view finder, exposure, black balance, white balance, shutter speed, digital efek dan lain-lain tergantung dari jenis kameranya. 1) View finder View finder merupakan monitor kecil sebagai jendela pengamat kita untuk bisa melihat obyek yang masuk ke dalam kamera. View finder biasanya disertai informasi fasilitas dan indikator pada saat rekaman, seperti

indikator posisi kamera record atau pause/stand by, white balance, iris, dan battery atau kaset habis, dan lain sebagainya. 2) Exposure Exsposure secara sederhana dapat diartikan sebagai pencahayaan pada kamera untuk mendapatkan gambar yang normal, tidak gelap (under exposure) dan tidak sangat terang (over exposure). Ada tiga hal pokok yang berkaitan dengan exsposure pada kamera yakni aperture, gain dan filter colour. Aperture (Diafragma) atau juga sering disebut Iris, yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ke lensa kamera. Iris seperti pupil mata kita yang bisa membesar dan mengecil sesuai cahaya yang masuk. Bila Iris dibuka selebar mungkin, lensa mengirim sinar maksimum ke dalam kamera, sebaliknya jika bukaan iris dikurangi maka lubang diafragma akan menyempit, sehingga sinar yang masuk ke kamera menjadi sedikit. Bukaan diafragma diukur dalam satuan f-stop: f/1.4 f/22. Lebih kecil nomor f-stop = bukaan diafragma besar, lebih besar nomor f-stop = bukaan diafragma kecil. Pengaturan iris secara manual dapat dilakukan dengan memutar ring iris di lensa kamera. Gain berfungsi apabila pengambilan gambar dalam keadaan kurang cahaya. Apabila dalam keadaan normal dengan bukaan f-stop maksimal (f/1.4) masih under exposure, dengan Gain kita bisa mengangkat exposure secara digital. Gain pada seri kamera DSLR cinematography disebut sebagai ISO (International Standard Organisation). Jika kita menaikkan Gain atau ISO konsekuensinya membuat gambar menjadi agak coral atau grain (pecah, gambar bergerimis seperti pasir). Filter Colour yang berfungsi untuk mengubah atau mencocokkan cahaya yang masuk ke dalam kamera. Umumnya kamera video memiliki dua buah filter koreksi warna. Untuk syuting di dalam ruangan dengan cahaya lampu Tungsten (kemerahan) kita pasang filter 3200ºK dan untuk syuting dengan penerangan cahaya matahari kita gunakan filter 5600ºK. Namun pada kamera yang lebih canggih biasanya Filter Colour sudah bisa diatur manual dengan angka yang sangat variatif serta juga dilengkapi dengan Filter ND (Neutral Density) berfungsi untuk mengurangi intensitas sinar yang terlalu

kuat tanpa mempengaruhi kualitas warna cahaya. Filter ini digunakan bila kondisi cahaya terlalu keras, seperti tengah hari yang terik. 3) White balance White balance merupakan sebuah fungsi yang ada dalam sebuah kamera untuk menentukan warna putih yang sesungguhnya dari obyek yang diambil sehingga warna keseluruhan akan tampak natural. Jika kamera sudah tahu warna putih yang benar, maka kamera tersebut akan dapat menentukan warna yang lain dengan benar karena warna yang lain juga berpedoman pada warna putih. Pada kebanyakan kamera fungsi white balance ini dapat dilakukan dengan otomatis (auto white balance) atau bisa juga menggunakan preset (pengaturan) pabrik dan juga bisa dilakukan secara manual. Jika white balance salah, maka gambar yang dihasilkan akan salah pula, misalnya gambar akan cenderung oranye, kebiru-biruan atau yang lainnya. White Balance harus dilakukan pada awal sebelum kita melakukan pengambilan gambar. 4) Black balance Black balance merupakan pengaturan yang hampir sama seperti pengaturan white balance. Jika white balance menentukan warna putih maka black balance berfungsi untuk menentukan warna hitam. Namun fungsi ini biasanya hanya ada pada kamera jenis professional dan tidak pada kamera consumer. Black Balance juga mesti dilakukan pada awal sebelum kita melakukan pengambilan gambar, atau bilamana Filter dan Gain serta keadaan cahaya berubah. Black Balance yang tidak sempurna akan menunjukan warna-warna yang tidak sempurna terutama pada area gelap pada gambar yang direkam. 5) Audio level Audio level pada kamera sangat penting, karena selain kualitas gambar, kualitas audio juga berpengaruh terhadap hasil karya video yang dibuat. Televisi adalah gabungan antara gambar dan suara. Gambar tanpa audio yang bagus akan sangat mengganggu pemirsa bahkan informasi yang hendak disampaikan tidak akan sampai kepada penonton.

c. Video Camera Recorder (VCR) Bagian ini berfungsi sebagai alat perekam gambar dan suara. Di beberapa kamera ada yang recoder-nya terpisah namun ada juga yang menyatu dengan body camera, kelebihan dari recorder yang menyatu dengan body camera adalah keringanan dan efesiensi waktu. Perkembangan teknologi saat ini sangat memudahkan kita dalam perekaman gambar, karena kita tidak perlu lagi menggunakan pita kaset seperti zaman dahulu, tetapi kini dapat menggunakan internal memory (HDD internal) dan external memory seperti Micro SD, SD, Stick Duo, CF, dan lain sebagainya. Kita tidak lagi melakukan capturing (transfer data) dari pita kaset ke komputer di mana membutuhkan alat dan waktu yang cukup banyak, melainkan cukup dengan copy-paste data dari memori ke komputer dalam waktu yang relatif singkat. Gambar 3. 7. External Memory Stick Duo Prinsip kerja kamera video dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Lensa menangkap gambar, lalu diteruskan ke bagian panel penangkap gambar. Penangkap gambar atau biasa disebut sensor Charge Couple Device (CCD), yang juga berfungsi sebagai view finder, mengirimkan gambar ke LCD. 2) Gambar yang ditangkap oleh lensa, dilewatkan pada filter warna yang kemudian akan ditangkap oleh CCD atau sensor gambar. Jarak antara lensa dan sensor ini dikenal dengan istilah focal length. Jarak ini pula yang akan menjadi faktor pengali pada lensa. 3) Tugas CCD adalah merubah sinyal analog (gambar yang ditangkap oleh lensa) menjadi sinyal listrik. Pada CCD ini terdapat jutaan titik sensor yang dikenal dengan pixel. 4) Gambar yang ditangkap oleh sensor CCD diteruskan ke bagian pemroses gambar yang tugasnya memroses semua data dari sensor CCD menjadi data digital berupa file format gambar, serta melakukan proses kompresi sesuai format gambar yang dipilih (RAW, JPEG, dan sebagainya). Di bagian

ini selain chip set yang berperan, software (firmware) dari kamera yang bersangkutan juga menentukan hasil akhir gambar. 5) Proses yang terakhir adalah mengirimkan hasil file gambar dalam format yang dipilih ke bagian penyimpanan (storage) atau memory card. Sistem kamera digital terbagi atas 3 macam. Pembagian ini berdasarkan sistem televisi di dunia yaitu: 1) National Television System Committee (NTSC), yang digunakan di Amerika Serikat. Sistem ini memiliki spesifikasi kemampuan merekam gambar 525 garis perdetik, 29 frame per second dan sumber tenaga listrik dengan frekuensi 60 hertz. 2) Phase Alternate Line (PAL), sistem inilah yang digunakan di Indonesia dan Eropa. Sistem ini memiliki spesifikasi kemampuan merekam gambar 625 garis perdetik, 25 frame per second dan sumber tenaga listrik 50 hertz. 3) SECAM, sistem ini digunakan di Perancis. Sistem ini memiliki kemampuan merekam gambar 825 garis perdetik, 25 frame per second dan sumber tenaga listrik 50 hertz. 2. Sinematografi Sinematografi berasal dari bahasa Yunani kinema yang berarti gerakan dan graphoo yang berarti menulis. Sinematografi adalah kegiatan menulis yang menggunakan gambar bergerak, seperti apakah gambar-gambar itu, bagaimana merangkai potongan-potongan gambar yang bergerak menjadi rangkaian gambar yang mampu menyampaikan maksud tertentu atau menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan ide tertentu. Unsur sinematografi ada 3: a. Kamera dan film, yaitu teknik-teknik yang dapat dilakukan melalui kamera dan stok filmnya seperti warna, penggunaan lensa, kecepatan gerak gambar, dan sebagainya. b. Framing, yaitu hubungan kamera dengan obyek yang diambil, seperti batasan wilayah gambar/frame, jarak, ketinggian, pergerakan kamera,dan sebagainya. (Hal ini akan dibahas pada Kegiatan Pembelajaran 3: Teknik Pengambilan Gambar Bergerak). c. Durasi gambar, yaitu lamanya sebuah obyek diambil gambarnya oleh kamera.

Bahasa adalah ekspresi, representasi dan komunikasi. Melalui bahasa kita dapat menyampaikan data dan fakta, serta dapat menciptakan komunikasi dengan orang lain. Bahasa verbal terdiri dari bunyi dan kata-kata yang ditangkap dengan telinga (audio), sedangkan bahasa televisi/film berupa gambar-gambar yang ditangkap dengan mata (visual) dan telinga (audio). Jika pada sebuah tulisan terdapat struktur pembentuk yaitu kata, kalimat dan alinea, maka pada sebuah film juga terdapat struktur pembentuk yaitu shot, scene dan sequence. a. Shot, Kalimat dalam Bahasa Televisi Shot adalah bagian dari adegan. Cara membuat 1 shot film yaitu merekam gambar mulai kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off), itulah yang disebut dengan 1 shot. 1 shot berdurasi kurang dari 1 detik, beberapa menit, bahkan jam. Seperti halnya kata-kata yang diajarkan kepada sesorang, satu kata diurutkan sesudah kata yang lain belum tentu membentuk kalimat yang baik dan dapat dimengerti. Begitu juga sambungan gambar-gambar dalam satu rangkaian belum tentu bermakna dengan sendirinya dan dapat dimengerti oleh penonton. Agar sambungan gambar-gambar tersebut dapat menceritakan sesuatu dan mudah dipahami oleh penonton dengan mudah, maka harus ada unsur-unsur yang menunjukkannya. Unsur-unsur tersebut dapat dicari dalam komposisi gambar-gambar itu sendiri. Misalnya, obyek yang bergerak dalam frame, dalam dialog yang diteruskan, atau dalam hubungan penonton dengan obyek-obyek dalam cerita itu sebagai akibat dari letak kamera atau lensa khusus yang dipergunakan. b. Scene (adegan), Alinea dalam Bahasa Televisi Scene adalah gabungan dari shot-shot. Scene berarti satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Untuk membuat suatu scene, shot-shot dihubungkan satu dengan yang lain. Hal penting yang diperlukan dalam sebuah scene adalah sebuah adegan atau action yang dipandang dari beberapa sudut kamera. Misalnya, sebuah scene mengenai perkelahian, maka gambar yang tampak adalah adegan

perkelahian dari sudut kiri dan kanan, dari lawan satu ke lawan yang lain, dan sebagainya. Ada bermacam-macam transisi untuk menyusun shot-shot menjadi scene, yaitu cut, fade in, fade out, dissolve dan wipe. Transisi-transisi ini dapat dipakai untuk menunjukkan hubungan peristiwa, pergantian waktu atau tempat. 1) Cut, adalah perpindahan atau pergantian langsung dari satu shot ke shot yang lain. Cut mempunyai fungsi untuk kesinambungan aksi, detail obyek, perubahan tempat dan waktu, serta menciptakan irama kejadian. Gambar 3. 8. Transisi Cut dari shot A ke shot B 2) Fade, adalah perpindahan shot di mana gambar berubah secara berangsurangsur menjadi semakin tampak jelas, dari gelap ke terang (Fade-In) atau perlahan-lahan gambar semakin gelap (Fade-Out). Fade-in digunakan untuk membuka adegan dan Fade-Out digunakan untuk menutup adegan. Jenis transisi ini digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu secara signifikan, seperti berganti hari, bulan, dan tahun. Gambar 3. 9. Transisi dari Fade-Out ke Fade-In 3) Dissolve, adalah perpindahan gambar secara tumpang tindih dari akhir suatu shot dengan awal dari suatu shot berikutnya. Transisi ini digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu secara signifikan, seperti berganti jam, hari, dan seterusnya. Beda waktu lebih cepat dibanding Fade dan seringkali digunakan untuk menunjukkan perubahan waktu pada ruang yang sama. Gambar 3. 10. Transisi dissolve dari shot A ke shot B 4) Wipe adalah transisi dari shot satu ke shot berikutnya dengan cara gambar digeser ke kanan atau ke kiri keluar dari frame. Transisi ini digunakan untuk

perpindahan shot yang terputus waktu tidak berselisih jauh (selang beberapa menit). Transisi wipe dari shot A ke shot B c. Sequence (babak), Bab dalam Bahasa Televisi Sequence adalah gabungan dari scene-scene. Sequence berarti satu segmen besar yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh dan diperoleh suatu mood tertentu. 1 sequence terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan. Satu sequence dikelompokkan berdasarkan satu periode, lokasi atau serangkaian aksi panjang. Misalnya, sebuah sequence tentang pengejaran seorang penjahat. Terlihat dalam sequence itu, seorang penjahat yang lari melalui jalan raya, terminal, jembatan, sungai, hutan dan dibelakangnya banyak polisi yang mengejarnya beserta anjing-anjing pelacak sampai pengejaran itu berakhir, entah penjahat itu tertangkap entah tidak. Bila penjahat itu tertangkap, sequence berikutnya mungkin sequence di pengadilan. Kalau tidak tertangkap, sequence berikutnya adalah penjahat itu bertemu dengan teman-temannya. Sebuah sequence biasanya terdiri dari scene-scene pendahuluan, tengah, dan akhir yang kemudian disambung oleh sequence lain dengan struktur yang sama. Berdasarkan kepandaian menggunakan jenis-jenis hubungan (transisi) shot-shot menjadi scene, dari scene-scene menjadi sequence itu, suatu cerita akan menunjukkan gaya tersendiri. Dengan gaya yang khusus dapat dikenali sebuah film tersebut bergenre romantik, dramatis, komedi, atau tragis. Terdapat 5 prinsip yang perlu diperhatikan agar pengambilan gambar yang akan dilakukan mempunyai nuansa sistemik. Kelima prinsip itu adalah camera angle, continuity, close up, composition, dan cutting. 1) Camera Angle Camera angle adalah sudut pandang penonton. Mata kamera adalah mata penonton. Sudut pandang kamera mewakili penonton. Dengan demikian, penempatan kamera menentukan sudut pandang penonton dan

wilayah yang dilihat penonton atau kamera pada suatu shot. Sebagai patokan untuk menetapkan posisi kamera dalam pengambilan gambar terdapat dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu, dimanakah sudut pandang terbaik untuk pengambilan suatu adegan (scene) dan seberapa luas atau banyak wilayah yang harus diambil. Pemilihan sudut pandang kamera yang tepat akan mempertinggi visualisasi dramatik dari suatu cerita. Sebaliknya, jika penempatan sudut pandang kamera dilakukan tanpa motivasi tertentu maka makna gambar yang telah direkam akan sulit dipahami oleh penonton. Oleh karena itu, penempatan sudut pandang kamera menjadi faktor yang sangat penting dalam membangun cerita yang berkesinambungan. 2) Continuity Sebuah film harus menampilkan urutan gambar yang berkesinambungan, lancar, dan mengalir secara logis. Inilah aspek continuity sebuah film. Sebuah film, baik itu sebuah rekaman kenyataan ataupun fiksi, harus mampu memberikan sebuah realitas kehidupan yang nyata bagi penontonnya. Dengan demikian, dapat dikatakan film adalah suatu dunia pura-pura yang meyakinkan dan itu dapat terwujud apabila kesinambungan dan logikanya terjaga dengan baik dan diterima secara wajar oleh penonton. Membuat film harus direncanakan dengan baik dan detail agar kesinambungan cerita dapat terjaga dengan baik. Dalam perencanaan (pra produksi), baik itu berupa catatan-catatan ide, corat-coret outline, desain storyboard, ataupun shooting script, harus memasukkan pertimbangan kesinambungan ini, karena jika tidak dilakukan, film yang dibuat hanya merupakan kumpulan shot yang tidak jelas. Film mempunyai waktu dan ruangnya sendiri. Waktu dalam film dapat dipersempit atau dikembangkan. a) Kesinambungan waktu Waktu yang sesungguhnya selalu bergerak ke depan, tetapi dalam film waktu dapat dimainkan. Ada 4 kategori waktu dalam film, yaitu masa sekarang, masa lampau, masa depan, dan menurut kondisi waktu.

– Masa sekarang Film yang menggunakan kesinambungan masa sekarang berarti membuat keseluruhan film itu seperti terjadi saat ini. Kejadian masa lampau dapat juga diceritakan seperti terjadi masa kini. Kesan dramatis akan terasa lebih kuat karena seolah-olah penonton diajak terlibat seperti menjadi saksi peristiwa tersebut. – Masa lampau Masa lampau dapat diceritakan secara flashback/mundur untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi sebelum cerita dimulai atau perulangan peristiwa yang sudah disajikan terlebih dahulu. Cerita sejarah dapat ditampilkan seolah-olah terjadi masa kini didepan penonton. – Masa depan Kilasan ke depan adalah kebalikan dari flashback. Waktu bergerak maju ke masa depan untuk menggambarkan kejadian-kejadian yang akan atau dapat terjadi dan kemudian kembali ke masa kini. Biasanya berupa sebuah dugaan atau khayalan ilmiah (science fiction). – Kondisi waktu Yang dimaksud kondisi waktu adalah penggambaran waktu sebagaimana dikondisikan oleh elemen-elemen lain dalam cerita. Biasanya digunakan untuk menggambarkan mimpi buruk, fantasi tokoh yang ada dalam cerita, ingatan seseorang akan peristiwa traumatik, dan sebagainya. b) Kesinambungan ruang Agar dapat diterima dengan mudah oleh penonton, suatu kerangka logika dari suatu pergerakan harus diperlihatkan. Penonton harus dibuat menyadari lokasi/ruang dari action dan arah gerakan itu sehingga penonton selalu sadar darimana pemain datang dan kemana pemain pergi. Misalnya, untuk menggambarkan sebuah perjalanan panjang seorang tokoh dari lokasi satu ke lokasi lain, ruang dapat dipersingkat dan tidak perlu semua lokasi yang dilewati oleh tokoh tersebut direkam gambarnya. Cukup mengambil bagian yang terpenting, bagus dan dapat memberi kesan suatu progres ke lokasi yang dituju.

3) Close up Close up adalah sarana yang sangat unik dalam video. Close up pada video memberikan kemungkinan suatu penyajian yang rinci dan detail dalam suatu kejadian. Dalam sebuah pertunjukan drama, musik maupun tarian diatas panggung, penonton harus menyaksikan dari jarak tertentu dan tidak dapat berubah-ubah. Dengan menggunakan close up, video dapat menampilkan bagian kecil dari suatu kejadian dalam adegan. Penonton sesaat dapat melihat secara detail bagian yang sangat kecil itu. Misalnya, sebuah drama panggung menampilkan adegan seorang dokter sedang menancapkan jarum suntik ke lengan pasien. Penonton tidak akan dapat menyaksikan dengan jelas adegan tersebut, namun dengan menggunakan close up penonton dapat melihat dengan jelas dan detil gambar jarum saat disuntikkan ke lengan pasien. Close up yang dipilih secara seksama, direkam secara sempurna, dan disunting dengan tepat akan menciptakan dampak dramatis dalam suatu kejadian. Close up adalah salah satu sarana penuturan cerita yang sangat kuat bagi pembuat film. Sutradara film cerita biasanya sangat berkepentingan dengan aspek-aspek visual dan close up. Oleh karena itu, close up harus dipertimbangkan, baik dari segi visual maupun penyuntingnya. 4) Composition Seorang pembuat film akan selalu dihadapkan pada salah satu hal yang sangat penting untuk dipikirkan dalam proses pembuatan film, yaitu bagaimana pembuatan komposisi yang baik di setiap adegan dalam film. Tujuan membuat gambar dengan pertimbangan komposisi adalah menampilkan gambar yang menarik bagi penonton sehingga enggan mengalihkan perhatian sekejap mata pun. Komposisi merupakan pengaturan dari unsur-unsur yang terdapat dalam gambar untuk membentuk suatu kesatuan yang serasi dalam sebuah bingkai. Seorang juru kamera harus menentukan apa yang masuk dan apa yang tidak masuk dalam gambar yang dibatasi oleh bingkai dalam view finder kamera, yang dikenal dengan istilah framing. Komposisi berhubungan dengan selera artistik, kesadaran emosional, pengalaman dan latar belakang pribadi juru kamera sehingga seyogyanya

komposisi tidak diatur dengan aturan yang ketat. Penataan komposisi bukanlah sesuatu yang mekanik. Perhitungan matematika dan geometri memang menunjang keberhasilan, namun kesulitan mendasar dalam membuat komposisi untuk audio visual bagi seorang juru kamera tidak saja terkait dengan bentuk dari pemain dan obyek tetapi juga dengan bentuk gerakan. Namun, cara mudah untuk mendapatkan komposisi yang baik adalah dengan menerapkan Rule of Third. Rule of third adalah bidang frame pada kamera seolah-olah dibagi oleh garis imajiner menjadi 3 bagian secara horizontal, dan 3 bagian secara vertikal. Komposisi terbaik dicapai apabila posisi obyek utama terletak dekat salah satu titik hitam tersebut. Gambar 3. 11. Rule of Third Jika seorang juru kamera hendak memakai pengaturan komposisi fotografi (statis) sebagai pertimbangan dalam membuat video yang bergerak, maka harus memperhatikan kesinambungan gambar. Agar setiap frame dalam sebuah shot memiliki keindahan komposisi, maka harus memenuhi prinsip-prinsip sinematik, yaitu: a) Mengarahkan perhatian penonton pada subjek/obyek yang terpenting. Dalam setiap adegan, shot-shot hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga mengarahkan perhatian penonton kepada subjek/obyek yang mempunyai arti dramatik. Untuk itu, juru kamera perlu memperhatikan berbagai macam cara pengambilan gambar, yaitu: – Berdasarkan ukuran dan jarak subjek/obyek. Biasanya mata penonton akan tertarik pada subjek/obyek yang lebih besar dan dekat daripada subjek/obyek yang lebih kecil dan jauh. Wajah seorang aktor yang muncul di latar depan sangat mungkin menjadi titik fokus perhatian penonton.

– Ketajaman fokus. Subjek/obyek yang menjadi fokus akan lebih diperhatikan penonton dari pada yang kabur. Misalnya juru kamera telah menempatkan dua tokoh yang sedang berbicara, yang satu diatur sedemikian rupa mempunyai ukuran yang lebih besar sedangkan satunya berada lebih jauh dari kamera sehigga ukurannya lebih kecil. Namun, karena fokusnya diletakkan pada subjek yang ukurannya lebih kecil, maka subjek tersebut akan lebih menarik perhatian penonton dibanding subjek yang ukurannya besar tapi gambarnya kabur. – Bergerak. Mata akan lebih tertarik pada benda yang bergerak dibandingkan yang statis/diam. Sebuah benda yang bergerak di tengah adegan yang statis akan menarik perhatian penonton. – Close up ekstrem. Close up ekstrem merupakan cara yang baik yang akan mempengaruhi penonton agar memusatkan perhatian pada apa yang dimaksudkan juru kamera. Misalnya pada adegan sekelompok prajurit yang berdiri berjajar terdapat seorang prajurit yang selalu memutar-mutar pedangnya sementara yang lain diam saja. Prajurit yang memutar-mutar pedang tersebut tentu akan menjadi pusat perhatian penonton. – Pembingkaian latar belakang. Juru kamera dapat membuat bingkai baru dalam frame dengan memanfaatkan latar depan subjek/objek yang akan diarahkan sebagai pusat perhatian. Misalnya juru kamera mengambil gambar seseorang yang sedang membaca di taman dari sela-sela dedaunan pagar hidup. – Menggunakan cahaya atau warna. Penggunaan warna dan cahaya dapat membantu penonton mengarahkan perhatian pada subjek/obyek yang penting. Bendabenda yang terang akan lebih menarik dibandingkan yang gelap. Demikian juga warna-warna cerah akan lebih menarik dibandingkan warna suram.

– Gerak lensa zoom. Lensa zoom adalah lensa yang memiliki kemampuan mendekatkan atau menjauhkan subjek/objek secara optik tanpa harus mendekatkan atau menjauhkan kamera. Dengan menggunakan gerakan lensa zoom suatu adegan dapat semakin terasa dramatis. – Gerak kamera mobil. Jika kamera dapat mengikuti arah gerak mobil, maka kemungkinan pengayaan gerak akan semakin bertambah. Dengan membebaskan kamera pada posisi statisnya, seorang juru kamera dapat menciptakan sudut pandang kamera yang terus menerus sehingga penonton memperoleh sajian gambar bergerak. Misalnya dengan memasang kamera di atas derek atau crane atau steady cam, juru kamera dapat menggerakkan kamera dengan mulus ke mana saja. Dengan demikian unsur dramatis semakin meningkat. b) Menciptakan ilusi kedalaman Komposisi sinematik juga harus memberikan perhatian pada usaha untuk menciptakan ilusi kedalaman atau suatu kesan tiga dimensi pada layar yang pada dasarnya layar tersebut bersifat dua dimensi. Untuk mencapai tujuan itu, seorang juru kamera dapat menggunakan beberapa macam teknik: – Gerak subjek. Untuk menciptakan kesan kedalaman, seorang juru kamera dapat mengatur subjek agar melakukan gerakan diagonal atau mengatur penempatan kamera pada posisi tertentu sehingga pada hasil pengambilan gambar nantinya dapat mendapatkan gerakan diagonal. – Seleksi pokok. Dengan membuat subjek tertentu lebih fokus (tajam) dibanding subjek yang lain, akan tercipta suatu dimensi kedalaman pada gambar yang direkam. – Pembingkaian latar depan. Subjek utama diberi bingkai oleh subjek atau obyek di latar depan. Contohnya, seorang tukang ban mobil sedang asyik dengan pekerjaannya membongkar ban yang bocor. Seorang juru kamera

mengambil sebuah ban luar yang ukurannya besar kemudian diletakkan berdiri. Selanjutnya kamera diletakkan setinggi ban tersebut dan mengambil gambar tukang tambal ban yang sedang asyik mengerjakan pekerjaannya dari celah ban yang posisinya berdiri. Pengambilan gambar yang demikian juga dapat menciptakan kesan tiga dimensi. – Efek dengan penyinaran cahaya. Dengan memberi cahaya yang berbeda intensitasnya pada suatu subjek diantara subjek-subjek lain yang tidak mendapatkan cahaya dengan intensitas yang sama, juga dapat menciptakan kesan kedalaman. Contohnya, sebuah adegan three shot dengan komposisi subjek berdiri di kiri dan kanan sedangkan seorang subjek yang lain sedang duduk di kursi yang rendah. Kemudian sebuah sorotan cahaya lunak diterpakan ke wajah subjek yang duduk di tengah itu. Keadaan yang demikian dapat menciptakan kesan gambar yang mempunyai kedalaman. 5) Cutting (Editing) Editing adalah jiwa dari sebuah film. Editing adalah suatu proses memilih, mengatur dan menyusun shot-shot menjadi satu scene, menyusun dan mengatur scene-scene menjadi sequence yang akhirnya merupakan rangkaian shot yang bertutur tentang suatu cerita yang utuh. Dengan kata lain, pekerjaan editing adalah menyingkirkan semua yang berlebihan, yang tidak diperlukan dalam pengambilan gambar sebelumnya, termasuk pengambilan gambar yang salah. Editor adalah seseorang yang mempunyai peran membantu atau bekerja sama dengan sutradara, mempunyai kewajiban merangkai gambar dengan baik dan teliti sehingga dapat bercerita kepada penonton. Editor harus bekerja dengan menggunakan kepekaan artistik, persepsi artistik, dan pertimbangan estetik dengan menyertakan keterlibatan batinnya menjadi bagian dari film yang akan dibuat. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang editor ketika melakukan tugas editing:

a) Memilih shot. b) Mempertimbangkan keterpaduan dan kesinambungan. c) Memilih jenis transisi yang digunakan. d) Membentuk irama/tempo. Dalam pembuatan film, terdapat tiga jenis editing, yaitu kesinambungan, kompilasi, dan gabungan kesinambungan dan kompilasi. a) Editing kesinambungan. Penuturan cerita disampaikan dengan menyusun gambar secara berurutan dan berkesinambungan. b) Editing kompilasi. Penuturan cerita disampaikan dengan narasi dan gambar-gambar yang ditampilkan sebagai ilustrasi dalam penuturan tersebut sehingga penonton menjadi terbantu oleh gambar-gambar dalam memahami uraian naratifnya. c) Gabungan editing kesinambungan dan kompilasi. Film-film cerita dapat menggunakan kedua jenis editing tersebut meskipun biasanya lebih sering dengan editing kesinambungan. Namun, pada intro yang menggunakan trailer, biasanya menggunakan editing kompilasi dari cuplikan peristiwa yang nanti akan disajikan dalam cerita utuhnya. 3. Teknik Pengambilan Gambar Bergerak. a. Sudut pengambilan gambar (Camera Angle) Hal yang perlu diperhatikan dalam penataan kamera salah satunya adalah camera angle atau sudut pandang kamera. Pemilihan sudut pandang kamera dengan tepat akan mempertinggi visualisasi dramatik dari suatu cerita. Sebaliknya jika pengambilan sudut pandang kamera dilakukan dengan serabutan dapat merusak dan membingungkan penonton, karena makna bisa jadi tidak tertangkap dan sulit dipahami. Oleh karena itu, penentuan sudut pandang kamera menjadi faktor yang sangat penting dalam membangun cerita yang berkesinambungan. Sudut kamera di bagi menjadi 3 jenis yaitu sudut kamera obyektif, subjektif, dan point of view.

1) Sudut kamera obyektif Sudut kamera obyektif adalah kamera dari sudut pandang penonton outsider, tidak dari sudut pandang pemain tertentu. Angle kamera obyektif tidak mewakili siapa pun. Penonton tidak dilibatkan, dan pemain tidak merasa ada kamera, tidak merasa ada yang melihat. a) Bird Eye View Teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera berada di atas ketinggian obyek. Hasilnya akan terlihat lingkungan yang luas dan benda-benda lain tampak kecil, misalnya gedung bertingkat, rumah, jalan, dan sungai. Gambar 3. 12. Bird Eye View b) High Angle Pengambilan gambar dari atas obyek yang diarahkan ke bawah sehingga mengesankan obyek terlihat kecil. Kesan yang ingin ditimbulkan pada angle ini yaitu kesan tertekan atau lemah. Gambar 3. 13. High Angle View

c) Low Angle Sudut pengambilan dari arah bawah obyek sehingga mengesankan obyek tampak terlihat besar. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai agung/prominance, berwibawa, kuat, dan dominan. Gambar 3. 14. Low Angle View d) Eye level atau Straight Angle Sudut pengambilan gambar sejajar dengan obyek. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang. Posisi kamera dan obyek sejajar. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis melainkan kesan wajar dan sering digunakan pada liputan stand up reporting. Gambar 3. 15. Eye Level View e) Frog eye Sudut pengambilan gambar dengan ketinggian kamera sejajar dengan alas/dasar kedudukan obyek atau lebih rendah. Hasilnya akan tampak seolah-olah mata penonton mewakili mata katak. Motivasi teknik

pengambilan gambar ini untuk memberikan kesan dramatik pada obyek unik atau aneh. Gambar 3. 16. Gambar 13: Frog Eye View Sumber: http://rumahkreasihana.blogspot.co.id/2012/02/teknik-pengambilan-gambar.html 2) Sudut kamera subjektif. Kamera dari sudut pandang penonton yang dilibatkan, misalnya melihat ke penonton. Atau dari sudut pandang pemain lain, misalnya film horor. Sudut kamera subjektif dilakukan dengan beberapa cara: a) Kamera berlaku sebagai mata penonton untuk menempatkan mereka dalam adegan, sehingga dapat menimbulkan efek dramatik. b) Kamera berganti-ganti tempat dengan seseorang yang berada dalam gambar. Penonton dapat menyaksikan suatu hal atau kejadian melalui mata pemain tertentu. Penonton akan mengalami sensasi yang sama dengan pemain tertentu. Jika sebuah kejadian disambung dengan close up seseorang yang memandang ke luar layar, akan memberi kesan penonton sedang menyaksikan apa yang disaksikan oleh pemain yang memandang keluar layar tersebut. c) Kamera bertindak sebagai mata dari penonton yang tidak kelihatan. Seperti presenter yang menyapa pemirsa dengan memandang langsung ke kamera. Relasi pribadi dengan penonton bisa dibangun dengan cara seperti ini. 3) Sudut Kamera Point of View Sudut Kamera Point of View yaitu suatu gabungan antara obyektif dan subjektif. Angle kamera POV diambil sedekat shot obyektif dalam kemampuan meng-approach sebuah shot subjektif, dan tetap obyektif. Kamera ditempatkan pada sisi pemain subjektif, sehingga memberi kesan penonton beradu pipi

dengan pemain yang di luar layar. Contoh paling jelas adalah mengambil close up pemain yang menghadap ke pemain di luar layar dan sebelumnya didahului dengan Over Shoulder Shot. b. Bidang Pandang Pengambilan Gambar (Frame Size) Seorang pembuat film harus memiliki pemahaman tentang bagaimana cara membuat ukuran gambar (frame size) atau komposisi yang baik dan menarik dalam setiap adegan filmnya. Pengaturan komposisi yang baik dan menarik adalah jaminan bahwa gambar yang ditampilkan tidak akan membuat penonton bosan dan enggan melepaskan sekejap mata pun terhadap gambar yang kita tampilkan. Komposisi berarti pengaturan (aransemen) unsur-unsur yang terdapat dalam gambar untuk membentuk satu kesatuan yang serasi (harmonis) di dalam sebuah bingkai. Batas bingkai pada gambar yang terlihat pada view finder atau LCD kamera, itulah yang disebut dengan framing. Seorang juru kamera harus mempertimbangkan komposisi di mana dia harus menempatkan obyek yang diharapkan akan menjadi POI (Point of Interest atau obyek utama yang menjadi pusat perhatian) dan seberapa besar ukuran obyek tersebut dalam frame. Kesimpulannya komposisi shot atau biasa disebut dengan shot size adalah pengukuran sebuah gambar yang ditentukan berdasarkan objek, pengaturan besar dan posisi obyek dalam frame (bingkai), dan posisi kamera yang diinginkan. Beberapa shot dasar yang sering digunakan dalam pengambilan gambar, antara lain extreme long shot, long shot, medium long shot, medium shot, medium close up, close up, big close up, dan extreme close up. 1) Extreme Long Shot (ELS) Gambar 3. 17. Extreme Long Shot Sumber: http://www.sfu.ca/~jhamlin/892/designproject/xlong1.html

Gambar diambil dari jarak sangat jauh, yang ditonjolkan bukan obyek lagi tetapi latar belakangnya. Fisik manusia nyaris tak tampak, namun dapat diketahui posisi obyek tersebut terhadap lingkungannya. 2) Long Shot (LS) Pengambilan gambar objek dengan latar belakang yang jelas. Berfungsi sebagai establishing shot (shot pembuka sebelum digunakan shotshot yang berjarak lebih dekat). Fisik manusia tampak jelas namun latar belakang masih dominan. Gambar 3. 18. Long Shot (LS) 3) Full Shot (FS) Gambar 3. 19. Gambar 16: Full Shot Sumber: http://www.boredpanda.com/indonesian-village-photography-herman-damar/ Merupakan teknik yang memperlihatkan komposisi obyek secara total, dari ujung kepala hingga ujung kaki (bila obyek manusia). Tujuannya untuk memperkenalkan tokoh lengkap dengan setting latarnya yang menggambarkan posisi obyek berada. Biasanya gambar ini digunakan

sebagai opening shot (biasanya zoom in hingga ke medium shot untuk menggambarkan wajah tokoh yang bersangkutan lebih detail). 4) Medium Long Shot (MLS) atau Knee Shot Komposisi manusia dan lingkungan relatif seimbang. Gambar diambil dari jarak yang wajar, sehingga jika misalnya terdapat 3 obyek maka seluruhnya akan terlihat. Bila objeknya satu orang maka tampak dari kepala sampai lutut. Gambar 3. 20. Medium Long Shot (MLS) atau Knee Shot 5) Medium Shot (MS) Sosok manusia mulai dominan dalam frame. Tubuh manusia terlihat dari pinggang ke atas hingga kepala. Gambar ini sering dilakukan untuk master shot pada saat moment interview. Gambar 3. 21. Medium Shot (MS)

6) Medium Close Up (MCU) Sosok manusia mulai mendominasi dalam frame. Tubuh manusia tampak dari dada ke atas hingga kepala. Biasanya digunakan untuk adegan percakapan normal. Gambar 3. 22. Medium Close Up (MCU) 7) Close Up (CU) Komposisi ini untuk memperjelas ukuran gambar. Tubuh manusia terlihat dari leher bagian bawah hingga kepala. Komposisi ini menunjukan penggambaran emosi atau reaksi terhadap suatu adegan. Biasanya digunakan untuk adegan dialog yang lebih intim. Gambar 3. 23. Close Up (CU) 8) Big Close Up (BCU) Pengambilan gambar obyek dari dagu hingga kepala. Gambar ini bertujuan menampilkan kedalaman pandangan mata dan ekspresi wajah. Tanpa kata-kata, tanpa bahasa tubuh, tanpa intonasi, BCU dapat mewujudkan emosi tersebut.

Gambar 3. 24. Big Close Up 9) Extreme Close Up (ECU) Penggambilan gambar dengan hanya memperlihatkan detail bagian-bagian tertentu, misalnya hidung, mata, atau telinga. Gambar 3. 25. Extreme Close Up (ECU) c. Gerakan Kamera dalam Pengambilan Gambar Untuk menciptakan gambar yang dinamis dan dramatis, maka perlu mengenal macam-macam gerakan kamera, antara lain panning, tilting, zooming, dan dolly/tracking. 1) Panning Pan singkatan dari panorama, yaitu pergerakan horizontal kamera dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Pengambilan gambar dilakukan dengan menggerakkan body camera tanpa mengubah posisi kamera. Panning ada dua macam, yaitu pan right dan pan left. Pan right yaitu kamera bergerak (menyapu obyek) dari kiri ke kanan. Sedangkan pan left yaitu kamera bergerak (menyapu obyek dari kanan ke kiri. Waktu standar untuk melakukan panning berkisar antara 3 sampai 5 detik.

Gambar 3. 26. Tampak atas gerakan Panning 2) Tilting Pergerakan vertikal kamera dari atas ke bawah atau sebaliknya. Pengambilan gambar dilakukan dengan menggerakkan body camera tanpa mengubah posisi kamera. Tilting ada 2, yaitu tilt up dan tilt down. Tilt Up yaitu kamera bergerak (menyapu obyek) dari bawah ke atas. Sedangkan tilt down yaitu kamera bergerak (menyapu gambar) dari atas ke bawah. Pergerakan ini menampilkan sosok secara perlahan-lahan, sehingga menimbulkan rasa penasaran penonton. Gambar 3. 27. Tampak depan gerakan Tilting 3) Zooming Zooming yaitu gerakan lensa kamera dalam merekam obyek. Di mana posisi kamera dalam keadaan statis/diam, cukup dengan menekan tombol zoom pada kamera atau dengan memutar ring lensa secara manual. Zooming ada dua jenis, yaitu zoom in dan zoom out. Zoom in yaitu gerakan lensa untuk memperbesar atau mendekatkan obyek dalam gambar. Sedangkan zoom out yaitu gerakan lensa untuk merekam obyek mengecil atau menjauh. Dalam pembuatan film, teknik zooming kurang disarankan, karena dalam

sebuah adegan durasi yang digunakan adalah satuan detik. Jika menggunakan teknik zooming, efek yang akan diperlihatkan sering kali tidak tersampaikan. Gambar 3. 28. Gerakan Zooming 4) Dolly/Tracking Dolly/Tracking yaitu pergerakan kamera akibat perubahan posisi kamera secara horizontal. Pergerakan dapat ke arah manapun (maju, mundur, samping kanan, samping kiri, maupun melingkar) sejauh masih menyentuh permukaan tanah. Gerakan kamera maju mendekati obyek disebut dolly in. Gerakan kamera menjauhi obyek disebut dolly out. Posisi kamera bergeser dari kiri ke kanan disebut crab right. Posisi kamera bergeser dari kanan ke kiri disebut crab left. Posisi kamera berpindah mengikuti gerakan obyek disebut follow. Pergerakan kamera ini biasanya menggunakan dolly yaitu segitiga beroda yang diletakkan di bawah kaki-kaki tripod agar gambar tidak shaking/berguncang.

Gambar 3. 29. Gerakan Dolly Gambar 3. 30. Tampak atas gerakan Crab Terdapat beberapa teknik lain yang tidak hanya mengandalkan sudut pengambilan, ukuran gambar, gerakan kamera dan obyek tetapi juga unsurunsur lain seperti cahaya, properti dan lingkungan. Rata-rata pengambilan gambar dengan menggunakan teknik-teknik ini menghasilkan kesan lebih dramatik, diantaranya: 1) Backlight Shot Dalam teknik ini, pengambilan gambar memperlihatkan wajah yang berbayang karena diabaikan oleh lensa kamera. Lensa kamera lebih mengejar cahaya di belakang obyek sehingga obyek menjadi tidak terkena cahaya. Pada prinsipnya, kamera selalu mengejar cahaya yang lebih terang, sehingga jika ada obyek yang menghalangi cahaya maka obyek tersebut akan terlihat gelap. Efek yang terjadi adalah obyek terlihat tidak jelas, sementara background tampak terang benderang. Semakin terang cahaya background, maka semakin gelap obyek.

Gambar 3. 31. Backlight Shot 2) Reflection Shot Dalam teknik ini, juru kamera tidak membidik obyek langsung ke sasaran, tetapi justru ke benda-benda yang mengandung bayangan (refleksi) atau pantulan obyek. Jika dilakukan di kamar, maka cermin bisa digunakan sebagai reflektor. Jika dilakukan di taman, kolam bisa dijadikan sebagai reflektor. Kesan yang ditimbulkan cukup dramatis karena pengaruh media yang digunakan. Gambar 3. 32. Reflection Shot Sumber: http://eliseblaha.typepad.com/golden/2012/04/tips-for-fun-everyday-photos.html 3) Door Frame Shot Dalam teknik ini, pengambilan gambar dilakukan dengan membuka sebuah pintu sedikit demi sedikit kemudian melongok ke dalamnya. Seolah juru kamera mengintip tapi melalui pintu yang sedikit terbuka. Teknik ini memberikan kesan menegangkan, misalnya dalam film horor. Penonton dibuat penasaran pada peristiwa yang terjadi di balik pintu.

Gambar 3. 33. Door Frame Shot Sumber: http://parishes.wau.org/archives/article/open_the_door/ 4) Artificial Framing Shot Dalam teknik ini, juru kamera menempatkan benda-benda di depan kamera sehingga efek yang muncul adalah keindahan karena kamera tidak langsung membidik obyek, tetapi terhalangi oleh benda yang menjadi foreground. 5) Jaws Shot Gambar 3. 34. Gambar 31: Artificial Framing Shot Sumber: http://ahadaily.com/candid-photography.html Dalam pengambilan gambar, biasanya obyek tahu jika gambarnya akan di-shoot. Tapi dalam teknik ini justru seolah-olah obyek tidak tahu sehingga ketika kamera menyorot ke arahnya dia terlihat kaget, tapi dalam situasi yang dramatik.

Gambar 3. 35. Jaws Shot 6) Framing with Background Dalam teknik ini, fokus tetap di depan tapi latar belakangnya dimunculkan untuk memberi kesan lain terhadap obyek tujuan. Obyek berada dalam kondisi yang benar-benar tegas dan tajam, sementara background dibiarkan buram karena tidak ada kaitannya dengan obyek. Gambar 3. 36. Framing With Background 7) Tripod Transition Pada teknik ini, posisi kamera berada di atas tripod dan beralih dari obyek satu ke obyek lain secara cepat. Gambar 3. 37. Penggunaan Tripod Untuk Pengambilan Gambar Sumber: http://www.videomaker.com/videonews/2013/09/8-tips-on-how-to-use-a-tripod 8) Artificial Hairlight Pada efek ini, rambut obyek diberi efek cahaya buatan sehingga menimbulkan efek bersinar. Selain untuk menambah penampilan, teknik ini juga untuk memberi batas antara obyek dengan background sehingga tampak lebih terpisah antara obyek dan latar belakangnya.

Gambar 3. 38. Artificial Hairlight 9) Fast Road Effect Teknik pengambilan gambar ini memperlihatkan juru kamera berada di dalam kendaraan yang sedang melaju kencang. Kesan yang ditimbulkan adalah pemandangan jalan yang bergerak begitu cepat memperlihatkan efek kecepatan mobil obyek. Gambar 3. 39. Fast Road Effect Sumber: http://haacked.com/archive/2009/06/08/aspnetmvc-vs10beta1-roadmap.aspx/ 10) Walking Shot Teknik ini mengambil gambar pada obyek yang sedang berjalan. Biasanya digunakan untuk menunjukkan orang yang sedang berjalan terburu-buru atau dikejar sesuatu. Gambar 3. 40. Walking Shot Sumber: http://julianpopely.blogspot.co.id/2012/09/how-to-shoot-people-walking.html

11) Over Shoulder Pengambilan gambar dari belakang obyek, biasanya obyek tersebut hanya terlihat kepala atau bahunya saja. Pengambilan gambar ini digunakan untuk adegan dialog antar pemain. Gambar 3. 41. Over Shoulder 12) Profil Shot Jika dua orang sedang berdialog, tetapi pengambilan gambarnya dari samping, kamera satu memperlihatkan orang pertama dan kamera dua memperlihatkan orang kedua. 4. Tata Cahaya a. Konsep Tata Cahaya Gambar 3. 42. Profile Shot Sumber: http://production.4filmmaking.com/cinematography1.html Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting ketika merekam video. Namun, cahaya yang terlalu banyak akan membuat obyek terlihat putih. Sebaliknya, kurang cahaya dapat membuat obyek tidak terlihat. Sebagian besar kamera video saat ini telah dilengkapi pengaturan cahaya otomatis. Namun demikian, saat merekam di luar ruangan, sebaiknya posisi Anda membelakangi cahaya matahari. Dalam kaitannya dengan masalah penataan cahaya, satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh juru kamera adalah penempatan kamera harus

sedemikian rupa sehingga kamera membelakangi pintu atau jendela, karena melalui pintu atau jendela tersebut cahaya masuk ke dalam ruangan. Melalui penataan cahaya, dapat diciptakan suasana yang dapat menyentuh emosi penonton. Misalnya suasanya sedih, gembira, dan sakral. Demikian pula melalui penataan cahaya dapat memberikan kesan aktor sedang marah, sedih, atau berwibawa. Jadi, meskipun kini telah banyak kamera video dengan sensitivitas tinggi, dimana dalam suatu ruangan yang cukup luas dapat mengambil gambar dengan sangat jelas, tidak berarti mampu menggeser peranan tata cahaya. Sebab, dengan pencahayaan terhadap suatu obyek akan dapat menciptakan gambar yang terang dan indah. Tujuan dari tata cahaya adalah untuk mendapatkan gambar yang menarik dan mendukung suatu produksi visualisasi dari suatu naskah cerita. Tata cahaya/lampu yang menyinari semua obyek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara dan aktor untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua obyek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak sekali fungsi tata cahaya/lampu tetapi fungsi dasar tata cahaya/lampu ini ada empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir. 1) Penerangan Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap obyek yang ada dilokasi. Istilah penerangan dalam tata cahaya/panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi juga memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Tidak semua area memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui akting pemain. 2) Dimensi Tata cahaya dapat mencitrakan kedalaman sebuah obyek. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas obyek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Jika semua obyek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap

oleh kamera tampak sama. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi obyek akan muncul. 3) Pemilihan Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan obyek dan area yang hendak disinari. Pengaturan tata cahaya/lampu ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. 4) Atmosfir Fungsi tata cahaya yang paling menarik adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata atmosfir digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Tata cahaya/lampu mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi, efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Arah cahaya terhadap obyek harus diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi harapan yang diinginkan dalam proses produksi. Berikut ini beberapa panduan untuk mengarahkan sumber cahaya: 1) Menyinari scene sehingga menghasilkan gambar yang mudah dipahami dan dapat dilihat tanpa menyulitkan mata manusia. 2) Memberikan penyinaran yang seimbang dari scene yang satu dengan yang lain, sehingga diperoleh urutan gambar yang sesuai tone warna yang baik terutama pada wajah artis. 3) Mendukung suasana realistik (pagi, siang, malam) maupun dramatik (sedih, gembira, cemas, takut). 4) Menghasilkan gambar yang menyenangkan melalui distribusi cahaya dan bayangan secara artistik. 5) Menciptakan dimensi atau kesan ruang dan kesan kepaduan bentuk, menghasilkan pemisahan visual antara obyek latar depan dan belakang. 6) Menambah keindahan atau kemolekan dari segi wajah subjek.

b. Prinsip Tata Cahaya Proses pengambilan gambar bergerak, baik di dalam maupun di luar ruangan sangat penting untuk mengatur pencahayaan sehingga subjek akan tampak dengan jelas. Jika pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan, usahakan ruangan memiliki cukup banyak cahaya alami atau pun cahaya buatan. Dalam proses produksi video, tata cahaya memegang peranan yang sangat penting, bahkan yang paling menentukan nilai atau kualitas materi video yang ingin ditampilkan. Secara umum, dalam tata cahaya dikenal istilah three points lighting, merupakan formula dasar pencahayaan dalam produksi video. Three points lighting yaitu key light, fill light, dan back light. Gambar 3. 43. Tata Cahaya Dalam Proses Produksi Video Sumber: http://focuscinema.blogspot.co.id/2012/03/three-points-lighting.html 1) Keylight Key light adalah cahaya terkuat dan paling penting dari tiga cahaya yang digunakan dalam teknik ini. Sumber cahaya ini ditempatkan di antara sisi kamera dan subjek sedemikian rupa (biasanya membentuk sudut 45 o ) sehingga satu sisi subjek akan terang, tetapi sisi lain agak gelap. Biasanya sinar yang digunakan pada keylight merupakan seberkas sinar dari hard light dan terfokus pada subjek. Banyaknya sumber cahaya untuk keylight, tergantung dari banyaknya sudut pengambilan gambar. Oleh karena itu, dalam produksi film, sumber cahaya ditempatkan di berbagai arah dengan berbagai intensitas. 2) Fill light Fill light digunakan sebagai sumber cahaya sekunder untuk key light dan ditempatkan di sisi berlawanan dari subjek (membentuk sudut -45 o ). Sumber

cahaya ini tidak seterang key light, karena hanya digunakan untuk mengisi bayangan yang dihasilkan key light. Fill light membantu mengurangi kontras yang dihasilkan oleh key light sehingga gambar lebih terlihat natural. 3) Back light Back light ditempatkan di belakang subjek dan digunakan untuk pencahayaan subjek dari belakang. Back light bisa lebih terang atau lebih redup dari key light; sumber cahaya ini akan memberikan highlight yang cukup pada subjek dan memisahkan subjek dari latar belakang. Back light menambah kedalaman gambar, sehingga membuat tampilan gambar menjadi tiga dimensi. Penataan lampu dapat pula memberikan kesan tertentu. Penataan lampu juga dapat diatur untuk memberikan berbagai efek, baik efek yang bersifat artistik, yang umum digunakan untuk acara hiburan, maupun efek dramatis. Untuk mendapatkan penyinaran yang seimbang antara ketiga unsur penyinaran, harus ada perbandingan tertentu antara key light, fill light dan back light. Perbandingan tersebut adalah 3 untuk back light, 2 untuk key light dan 1 untuk fill light. Back light mendapat perbandingan terbanyak agar dapat memisahkan subjek dengan dekorasi sehingga gambar tidak terlihat menempel. c. Sumber Cahaya 1) Sumber cahaya alam Sumber cahaya alam yaitu cahaya matahari yang merupakan bentuk penyinaran terbaik dalam pengambilan gambar bergerak. Matahari memiliki cahaya yang terang dan merata, memberikan warna-warna alami dan kedalaman fokus yang mencukupi. Hal yang harus diperhatikan oleh juru kamera saat mengambil gambar dengan menggunakan cahaya matahari adalah bahwa kecerahan dan posisi matahari selalu berubah. Waktu yang paling baik untuk pengambilan gambar di luar ruangan yakni antara pukul 07.00 hingga 11.00 dan antara pukul 14.00 hingga 16.30. Cahaya yang diperoleh dalam rentang waktu tersebut mendekati kesamaan kecerahan sehingga juru kamera akan mendapatkan hasil gambar yang maksimal. Hindari pengambilan gambar pada saat matahari tepat di atas kepala karena akan muncul bayang-bayang dan kernyitan di dahi subjek. Hal ini akan

mempengaruhi ekspresi wajah subjek. Hindari juga pengambilan gambar saat sore menjelang petang karena akan menghasilkan gambar bluish (berwarna kebiruan). 2) Sumber cahaya buatan Sumber cahaya yang digunakan berasal dari cahaya lampu. Yang dimaksud dengan lampu di sini adalah movie lamp (lampu shooting). Movie lamp harus memancarkan cahaya pada temperatur warna daylight. Untuk menghasilkan cahaya daylight maka lampu harus dilengkapi dengan filter biru. Penggunaan lampu ini bertujuan untuk menghilangkan bayangan, namun tetap mempertahankan teori keylight, fill light dan back light. Apabila plafon ruangan berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, juru kamera mengarahkan lampu-lampu ke dinding dan langit-langit untuk memperoleh sebaran cahaya merata ke sekitar ruangan. Penerangan ruangan dengan cahaya pantulan akan memberikan gambar background yang baik. 5. Editing Video a. Memulai Adobe Premiere Pro CS4 Jalankan program Adobe Premiere Pro CS4 yang telah kita install dengan cara pilih Start > All Program >Adobe Premiere Pro CS4. Cara lain adalah klik 2 kali, shortcut yang teresedia pada Desktop atau klik pada shortcut toolbar Windows. Tampilan awal program seperti gambar berikut. Gambar 3. 44. Adobe Premiere Pro CS4 b. Membuat Project Baru dan Mengatur Setting Dasar Setelah menjalankan Adobe Premiere Pro CS4 maka langkah selanjutnya membuat project baru dan mensettingnya, langkahnya sebagai berikut:

1) Klik tombol New Project yang terdapat pada kotak dialog pembuka. Maka akan tampil kotak dialog New Project. Gambar 3. 45. New Project 2) Pada Location, klik Browse, pilih folder Project Files di My Documents atau lokasi hardisk tempat Anda meletakkan folder Project Files. Gambar 3. 46. Tempat penyimpanan 3) Beri nama Proyek baru pada kotak Name. Untuk setting yang lain, Anda biarkan saja sesuai dengan nilai default, klik OK. 4) Pada kotak dialog New Sequence, Saudara klik tombol drop down DV- NTSC, lalu pilih Standard 48kHz. Gambar 3. 47. Setting sequence

5) Beri nama Workspace pada kotak Sequence Name. Pada tab General dan Tracks Saudara dapat mengatur lagi setting Sequence dan jumlah track video atau audio, untuk kali ini Anda biarkan saja, lalu klik OK. 6) Area kerja Adobe Premiere Pro CS4. Gambar 3. 48. Area Kerja Adobe Premiere c. Mengenal Area Kerja Adobe Premiere ProCS4 Garis besar lingkungan kerja Adobe Premiere Pro CS4 terdiri dari 3 bagian utama, yaitu: 1) Project window, yang berada pada sebelah kiri atas. 2) Monitor window, yang berada di sebelah kanan atas. 3) Timeline window, yang berada di sebelah kiri bawah. 4) Tools window, yang berada di sebelah kiri bawah. Gambar 3. 49. Mengenal Area kerja Adobe Premiere

a) Project Window Project window adalah tempat di mana Anda menyimpan klip/footage (sebutan bagi file yang digunakan dalam digital video production) yang berupa file image, audio, title, dan video yang akan digunakan dalam proses editing. Project window memiliki 2 bagian yaitu Tab Project yang berisi daftar klip dan Tab Effects yang berisikan daftar efek audio, transisi audio, efek video dan transisi video. Gambar 3. 50. Project Window Gambar 3. 51. Effects b) Monitor Window Monitor window terdiri dari Source Monitor Window dan Sequence Monitor Window, di sebelah kiri merupakan Source Monitor

Window, sedangkan sebelah kanan merupakan Sequence Monitor Window. Source Monitor Window sangat berguna dalam proses trimming video nantinya, dan Sequence Monitor Window digunakan untuk melihat preview hasil editing pada Timeline. Gambar 3. 52. Monitor Window c) Timeline Window Timeline Window adalah tempat untuk menyusun dan menempatkan klip/footage untuk kemudian diedit. Dinamakan timeline karena bekerja berdasarkan waktu (secara horisontal). Sedangkan secara vertikal Timeline dibagi dalam track, yang terdiri dari track Video dan Audio. Adobe Premiere Pro CS4 menggunakan format SMPTE dalam satuan waktunya.smpte(society of Motion Picture and Television Engineer) adalah organisasi dari orang-orang film dan pertelevisian Internasional. Satuan format SMPTE adalah berdasarkan Jam : Menit : Detik : Frame. Misalnya 00 : 05 : 15 : 19 artinya kita berada pada posisi menit ke-5, detik ke-15, dan frame ke-19. Dengan format ini kita akan tahu durasi dari sebuah movie. Gambar 3. 53. Timeline Window

d) Tools Window Tools window berisikan tombol Selection Tool, Track Selection Tool, Ripple Edit Tools, Rooling Edit Tool, Rate Scracth Tool, Razor Tool, Slip Tool, Slide Tool, Pen Tool, Hand Tool, Zoom Tool yang nantinya banyak digunakan dalam proses editing video. Gambar 3. 54. Tool Window d. Proses Import dan Triming 1) Mengimpor Klip Berikut ini langkah-langkah mengimpor klip: a) Pada menu pilih File >Import. b) Maka akan tampil kotak dialog Import, lalu pilih file yang akan diimpor. Selanjutnya tekan Open. Gambar 3. 55. Tampilan kotak dialog Import c) Maka file yang telah diimpor akan tampil di dalam Project Window.

Gambar 3. 56. Tampilan daftar file yang telah diimpor di dalam Project Window 2) Melakukan Trimming Berikut ini langkah-langkah trimming: a) Klik dua kali salah satu klip yang ada di dalam Project Window maka klipakan tampil dalam Source Monitor atau drag salah satu klip yang ada di dalam Project Window ke dalam Source Window. Gambar 3. 57. Tampilan klip di dalam Source Monitor Window b) Kemudian untuk memainkan klip tersebut gunakan tombol Play atau dengan menggeser Playhead ke posisi waktu yang kita inginkan, lalu klik tombol Set In Point untuk menandai awal trimming. Tombol ini berada di sebelah kiri bawah pada Monitor Window. Gambar 3. 58. Tombol Set In Point

Gambar 3. 59. Proses penentuan In Point pada Source Monitor Window c) Kemudian geser Playhead ke posisi waktu akhir lalu klik tombol Set Out Point untuk menandai akhir trimming. Gambar 3. 60. Tombol Set Out Point Gambar 3. 61. Proses penentuan Out Point dalam Source Monitor Window d) Apabila file atau klip yang kita trim merupakan file video yang tersusun atas video dan audio, maka kita dapat memilih format yang akan disusun ke dalam timeline, dapat berupa video tanpa audio/suara atau hanya audio saja yang akan dimasukkan ke dalam timeline. Tetapi apabila klip yang kita trim

berupa audio saja, maka yang dapat kita masukkan ke timeline juga berupa audio saja. Terdapat tiga pilihan Toggle Take Audio and Video yaitu Take Video,Take Audio, Take Audio and Video. Toggle Take Video untuk mengatur hanya memasukkan format video saja tanpa suara/audio ke dalam timeline, sedangkan Toggle Take Audio apabila diaktifkan maka hanya audio saja yang akan dimasukkan ke dalam timeline, dan Toggle Take Audio and Video apabila diaktifkan maka hasil trimming yang dimasukkan ke dalam timeline akan berupa video beserta audionya. Gambar 3. 62. Toggle Take Video Gambar 3. 63. Toggle Take Audio Gambar 3. 64. Toggle Take Audio and Video e) Setelah klip ditrimming maka klip siap untuk disusun di dalam Timeline Window. Untuk menyusun klip hasil trimming ke dalam Timeline Window caranya drag video yang tampil pada Source Monitor Window ke dalam Timeline Window dengan cara drag seperti biasa. Apabila formatnya berupa video maka tempatkan klip hasil trimming pada Track Video, apabila format klip adalah audio maka tempatkan pada Track Audio, tetapi bila formatnya adalah video yang memiliki audio maka tempatkan dalam Track Video selanjutnya format audio yang bersamanya akan menyesuaikan diri menempati Track Audio yang kosong.

Gambar 3. 65 Klip format video yang memiliki audio disusun dalam Timeline Window Gambar 3. 66. Klip video yang tidak memiliki audio yang disusun di dalam Timeline Gambar 3. 67. Klip format audio yang disusun di dalam Timeline Window 3) Metode Insert dan Metode Overlay Setelah dilakukan trimming dengan menentukan In Point dan Out Point pada salah satu klip video maka kita akan berlatih menggunakan metode Insert

dan Overlay serta melihat perbedaan antara keduanya, langkah-langkahnya sebagai berikut: a) Pilih salah satu klip yang ada di dalam Project Window, kemudian drag ke dalam Timeline Window dan letakkan pada Track Video 1. b) Pilih salah satu klip yang ada di dalam Project Window, kemudian drag ke dalam Timeline Window dan letakkan pada Track Video 1. c) Kemudian pilih sebuah klip yang ada dalam Project Window, lalu drag ke dalam Timeline Window dan letakkan pada Track Video 1 tepat di sebelah klip pertama. Lalu klik tulisan Video 2 untuk mengeset aktif Track Video 2, kemudian klik tulisan Audio 2 untuk mengaktifkan Track Audio 2. Gambar 3. 68. Penyusunan klip di dalam Timeline Window d) Setelah itu pada Source Monitor Window, pada tempat kita melakukan trimming, tekan tombol Insert. Gambar 3. 69. Tampilan Trimming dalam Source Monitor Window e) Maka klip hasil trimming akan dimasukkan ke dalam Timeline Window dengan cara memotong klip yang berada pada tempat Current Time Marker berada, kemudian klip potongannya akan berada di depan klip hasil trimming.

Gambar 3. 70. Penggunaan metode Insert untuk memasukkan klip hasil trimming ke dalam Timeline f) Kemudian tekan File >Undo untuk membatalkan pilihan Insert. g) Lalu pada Source Monitor Window klik tombol Overlay. h) Maka klip hasil trimming akan diletakkan di layer atau track yang tidak berisi klip/track kosong. Gambar 3. 71. Tampilan penggunaan metode Overlay untuk memasukkan klip hasil trimming ke dalam Timeline 4) Mengatur Tampilan Klip yang ada di dalam Track Video Tampilan klip yang ada pada Track Video di dalam Timeline Window dapat diatur sedemikian rupa, terkadang kita membutuhkan tampilan yang kompleks untuk mempermudah dalam mencari letak adegan tertentu, tetapi kita juga membutuhkan tampilan yang sederhana untuk meringankan kinerja komputer. Untuk mengatur tampilan klip yang ada di dalam Track Video caranya: a) Klik tombol panah Collapse/Expand Track yang berada pada Track Video 1.

Gambar 3. 72. Letak tombol Collapse/Expand Track b) Maka tampilan Track Video 1 akan menjedi seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 3. 73. Tampilan Track Video 1 setelah diexpand c) Kemudian kita dapat memilih style tampilan klip menggunakan tombol Set Display Style yang ada di dalam Track Video 1. Kemudian klik tombol Set Display Style, maka akan tampil pop up menu yang berisi 4 pilihan pengaturan yaitu Show Head and Tail, Show Head Only,Show Frames dan Show Name Only. Gambar 3. 74. Tampilan ketika tombol Set Display Style di klik d) Selanjutnya pilih salah satu dari 4 pilihan yang ada. Tampilan Show Head and Tail akan menampilkan gambar awal dan akhir dari sebuah klip, pilihan Show Head Only akan menampilkan gambar awal saja pada klip, pilihan Show Frames akan menampilkan setiap frame dari sebuah klip, sedangkan pilihan Show Name Only hanya akan menampilkan nama dari klip saja.

Gambar 3. 75. Tampilan berbagai display style 5) Mengatur Tampilan Klip yang ada di dalam Track Audio Seperti halnya tampilan klip dalam Track Video, tampilan klip di dalam Track Audio juga dapat diatur sedemikian rupa. Jika klip pada Track Video menampilkan gambar tempilan video atau still image, maka klip yang ada dalam Track Audio akan menampilkan bentuk gelombang audio atau waveform. Untuk mengatur display style pada Track Audio caranya: a) Klik tombol panah Collapse/Expand Track yang di dalam Track Audio 1. Gambar 3. 76. Tombol Collapse/Expand Track pada Track Audio b) Maka tampilan Track Audio 1 akan menjadi seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 3. 77. Tampilan Track Audio setelah diexpand c) Kemudian klik tombol Set Display Style, maka akan tampil pop up menu yang berisi dua pilihan, yaitu Show Waveform dan Show Name Only. Pilihan Show Waveform akan menampilkan bentuk gelombang audio pada klip,

sedangkan pilihan Show Name Only hanya akan menampilkan nama file dari klip tersebut. Gambar 3. 78. Tampilan pop-up menu apabila tombol Set Display Style di klik d) Klik salah satu pilihan tersebut. Gambar 3. 79. Tampilan pilihan Show Name Only Gambar 3. 80. Tampilan pilihan Show Waveform 6) Menggunakan Zoom Toggle untuk Melakukan Zoom-In dan Zoom-Out Untuk memudahkan kita dalam melakukan Zoom-In dan Zoom-Out pada Timeline, kita dapat menggunakan Zoom Toggle dengan menggeser Playhead Zoom Toggle atau dapat juga dengan melakukan klik pada tombol Zoom-In dan Zoom-Out. Gambar 3. 81. Tampilan Zoom Toggle Gambar 3. 82. Tampilan Timeline Window sebelum dilakukan Zoom-In

Gambar 3. 83. Tampilan Timeline Window setelah dilakukan Zoom-In Selain menggunakan Zoom Toggle kita juga dapat menggunakan tombol Zoom Tool yang ada di dalam Tools Window. Gambar 3. 84. Tombol Zoom Tool yang ada di dalam Tools Window 7) Mengatur Durasi Klip Untuk mengatur durasi klip yang berada di dalam Timeline Window caranya dekatkan kursor mouse ke posisi akhir klip, sehingga akan tampil kursor Ripple Edit berwarnamerah dengan panah berwarna hitam. Gambar 3. 85. Tampilan kursor Ripple Edit Gambar 3. 86. Tampilan klip sebelum diubah durasinya Kemudian drag maju dan mundur untuk merubah durasi klip.

Gambar 3. 87. Tampilan klip yang telah diubah durasinya 8) Memotong Klip Untuk memotong klip yang telah disusun dalam Timeline Window, Anda dapat menggunakan tombol Razor Tool yang berada di dalam Tools Window. Berikut ini langkahnya: a) Susun sebuah klip ke dalam Timeline Window. Kemudian geser Current Time Marker ke posisi yang akan dilakukan pemotongan. Gambar 3. 88. Penggeseran Current Time Marker untuk membantu mempermudah pemotongan klip b) Kemudian klik tombol Razor Tools yang berada dalam Tools Window. c) Lalu klik satu kali pada klip tepat pada posisi Current Time Marker berada. d) Maka klip akan terpotong menjadi dua bagian

Gambar 3. 89. Klip yang terpotong menjadi dua bagian 9) Menghapus Klip Pada suatu saat mungkin kita berniat untuk menghapus klip (baik itu berupa audio maupun video) yang ada di dalam Timeline Window karena berbagai alasan, misalnya tidak jadi terpakai. Maka untuk menghapus klip yang ada di dalam Timeline Window caranya pilih salah satu klip yang akan dihapus yang berada di dalam Timeline Window, dengan cara klik satu kali pada klip tersebut. Kemudian tekan tombol Delete yang ada di keyboard komputer. Maka klip tersebut akan terhapus. Gambar 3. 90. Tampilan klip yang telah terpilih 10) Property Motion Setiap klip yang ada di dalam Timeline Window memiliki Property Motion, untuk menampilkan property klip caranya klik pada klip yang ada di dalam Timeline Window maka akan tampil Tab Effect Controls yang menampilkan Property Motion.

Gambar 3. 91. Tampilan Property Motion dalam Tab Effect Controls Property Motion berisikan pilihan-pilihan berupa: a) Position, berfungsi untuk mengatur letak atau posisi klip. b) Scale, berfungsi mengatur skala klip, kita dapat melakukan perbesaran dan perkecilan menggunakan pilihan ini. c) Rotation, berfungsi mengatur rotasi atau perputaran klip. d) Anchor Point, berfungsi mengatur letak titik pusat perputaran klip. Gambar-gambar berikut ini merupakan contoh dari perubahan nilai pada pilihan Position,Scale, Rotation, dan Anchor Point. Gambar 3. 92. Tampilan awal klip sebelum mengalami perubahan nilai Gambar 3. 93. Perubahan nilai Position

Gambar 3. 94. Hasil perubahan nilai Position Gambar 3. 95. Perubahan nilai pada Scale Gambar 3. 96. Tampilan perubahan nilai Scale Gambar 3. 97. Perubahan nilai Rotation Gambar 3. 98. Tampilan perubahan nilai Rotation

Gambar 3. 99. Perubahan nilai Anchor Point Gambar 3. 100. Tampilan perubahan nilai Anchor Point dan Rotation 6. Membuat Title Title adalah tulisan atau pun judul berupa susunan teks dalam video.title ini dapat digunakan untuk judul, penjelasan, caption ataupun informasi lainnya. Adobe Premiere Pro menyediakan fasilitas untuk membuat title menggunakan tool Adobe Title Designer. Adobe Title Designer merupakan fasilitas titling standar yang memiliki banyak tool dan template yang bisa Anda gunakan untuk membuat title dan logo sesuai dengan ide kreatif Anda. a. Mulai Membuat Title Untuk membuat title menggunakan Adobe Title Designer berikut ini langkah-langkahnya: 1) Susun sebuah klip ke dalam Timeline Window lalu tempatkan pada Track Video 1, klip inilah yang nantinya akan digunakan sebagai background title. Gambar 3. 101. Sebuah klip yang disusun dalam Track Video 1 2) Lalu pada menu pilih File > New > Title. Maka akan tampil window Adobe Title Designer.

Gambar 3. 102. Mengganti nama Gambar 3. 103. Adobe Title Designer 3) Kemudian pastikan tombol Type Tool terpilih. Tombol Type Tool berada pada kumpulan tombol Tool di sebelah kiri window. Gambar 3. 104. Type Tool 4) Setelah itu ketikkan kalimat sesuai keinginan Anda di dalam Monitor. Gambar 3. 105. Penggunaan Type Tool 5) Kemudian ubah nilai Font Size yang ada dalam pilihan Object Style menjadi 120.

Gambar 3. 106. Perubahan nilai Font Sise 6) Sehingga tampilan pada monitor akan tampak seperti ini. Gambar 3. 107. Tampilan perubahan font sise pada monitor 7) Lalu Anda dapat mengatur letak teks yang telah Anda buat menggunakan tombol Selection Tool. Selanjutnya drag ke posisi yang Anda inginkan. 8) Kemudian tutup window Adobe Title Designer menggunakan tombol silang yang ada di sudut kanan atas window. 9) Lalu tekan tombol close dan secara otomatis title akan tersimpan. 10) Maka nama file title PPPPTK VEDC MALANG akan tampil dalam Project Window. Gambar 3. 108. Title yang berada dalam project window 11) Lalu susun title yang anda buat ke dalam Timeline Window, letakkan pada Track Video 2.

Gambar 3. 109. Susunan klip dalam timeline Window 12) Maka tampilan pemberian title dalam Sequence Monitor Window akan tampak seperti pada gambar berikut. Gambar 3. 110. Tampilan title di dalam sequence monitor window Langkah-langkah di atas merupakan langkah dasar pengaplikasian title di dalam project digital video kita. Masih terdapat banyak pengaturan property agar title yang kita buat terlihat bagus. b. Membuat Text Vertikal Untuk membuat text vertikal kita dapat menggunakan tombol Vertical Type Tool, berikut ini langkah-langkahnya: 1) Klik tombol Vertical Type Tool yang berada di sebelah kiri window Adobe Title Designer. 2) Lalu ketikkan text di dalam monitor. Gambar 3. 111. Tombol Vertical Type Toll

Gambar 3. 112. Tampilan Vertical Type Tool c. Membuat Text Paragraf Horisontal Untuk membuat text paragraf horisontal kita dapat menggunakan tombol Area Type Tool, berikut ini langkah-langkahnya: 1) Klik tombol Area Type Tool yang berada di sebelah kiri window Adobe Title Designer. Gambar 3. 113. Area Type Tool 2) Kemudian buat area paragraf pada monitor dengan cara drag dan klik dari area kiri atas ke kanan bawah. 3) Kemudian ketikkan text di dalam area paragraf tersebut. Gambar 3. 114. Tampilan paragraph horizontal menggunakan Area Type Tool 7. Transisi a. Memberikan Transisi Untuk lebih jelasnya maka akan dijelaskan langkah demi langkah proses pemberian transisi pada workspace Single Track Editing, caranya: 1) Import klip ke dalam Project Window.

2) Kemudian susun salah satu klip yang ada di dalam Project Window ke dalam Track Video 1 di dalam Timeline Window dengan melakukan drag and drop. Gambar 3. 115. Klip pertama yang disusun di dalam Timeline Window 3) Geser Current Time Marker ke posisi waktu 00:00:10:06 untuk memberikan durasi transisi. Gambar 3. 116. Current time marker digeser ke depan untuk memberi durasi transisi 4) Setelah itu drag lagi salah satu klip yang ada di dalam Project Window ke dalam Timeline Window. Tempatkan klip tepat pada posisi Current Time Marker pada Track Video 1, overlap dengan klip pertama. 5) Kemudian klik Tab Effects pada Project Window. Expandlah pilihan Video Transitions, selanjutnya expand pula pilihan Iris. Gambar 3. 117. Penempatan klip kedua pada track video 1 yang sengaja dibuat overlap dengan klip pertama

Gambar 3. 118. Tab effects di dalam project window 6) Selanjutnya drag pilihan transisi Iris Diamond ke dalam Timeline Window, tempatkan di Track Video 1 tepat setelah Current Time Marker. Gambar 3. 119. Pemberian transisi spin pada track video 1 7) Kita dapat melihat hasil pemberian transisi dengan melakukan Play pada Sequence Monitor Window atau dengan menekan Space Bar pada keyboard komputer (Adobe Premiere tidak memerlukan proses render untuk memainkan hasil transisi). Gambar 3. 120. Melihat transisi dalam sequence monitor window

b. Mengatur DurasiTransisi 1) Pilih transisi yang akan diatur durasinya dengan cara klik satu kali pada transisi tersebut. Transisi yang aktif atau telah terpilih akan berwarna hitam seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 3. 121. Pemilihan transisi yang akan diatur durasinya 2) Maka Tab Effect Controls yang ada di dalam Monitor Window akan tampil seperti pada gambar di bawah ini. Pada Tab Controls inilah kita melakukan pengaturan durasi transisi. Gambar 3. 122. Tampilan tab effect controls dalam monitor window 3) Kemudian ubahlah nilai pilihan Duration menjadi 00:00:02:10. Maka panjang durasi akan berubah. Gambar 3. 123. Perubahan nilai pada pilihan duration Gambar 3. 124. Tampilan Tab effect controls setelah panjang durasi transisi dirubah

c. Mengatur Posisi Transisi Sesuai dengan kaidah yang berlakudalam workspace Single Track Editing, maka kita dapat merubah posisi transisi dengan metode Center of Cut, Start of Cut dan End of Cut. Pengaturan posisi transisi dilakukan menggunakan pilihan Alignment yang berada pada Tab Effect Controls di dalam Monitor Window. Gambar 3. 125. Tampilan Pilihan Alignment di dalam Tab effect controls yang berfungsi mengatur posisi transisi Gambar 3. 126. Tampilan pop-up menu pilihan Alignment Gambar 3. 127. Tampilan Pilihan pop-up menu pilihan Alignment Gambar 3. 128. Tampilan Alignment yang menggunakan transisi Center at Cut

Gambar 3. 129. Tampilan posisi transisi Center at Cut di dalam Timeline Window d. MenghapusTransisi Pada suatu saat mungkin kita perlu menghapus transisi yang telah dibuat, maka untuk menghapus transisi caranya pilih transisi yang akan dihapus kemudian tekan tombol Delete yang ada dalam keyboard komputer. e. Mengganti Transisi Sedangkan untuk mengganti transisi yang telah ada dengan transisi jenis lainnya, yang perlu kita lakukan adalah menimpa transisi yang lama dengan transisi yang baru pada posisi yang sama, maka transisi yang lama akan digantikan dengan transisi yang baru. Misalnya transisi lama Anda adalah jenis Spin, kemudian Anda akan menggantinya dengan jenis Cross Dissolve, maka yang perlu Anda lakukan adalah mengambi transisi dari jendela Tab Effects di Project Window, kemudian Anda drag and drop ke dalam Timeline Window tepat pada transisi yang lama, maka secara otomatis transisi Spin akan berubah menjadi Cross Dissolve dengan durasi yang sama. 8. Merekam Suara dan Editing Suara Dalam Adobe Premiere CS, Saudara dapat mengedit suara, menambahkan efek untuk suara, dan campuran sebanyak track audio yang dapat ditangani di dalam sistem komputer Anda. Trek dapat berisi mono atau saluran 5.1 surround. Selain itu, ada trek standar dan trek adaptif a. Merekam Suara Dalam Audio mixer Anda dapat merekam suara yang hasilnya dapat langsung didengar, diedit, dan diberi efek. Hasil rekaman akan langsung disimpan di lokasi yang sama dengan tempat menyimpan proyek.

1) Pastikan Anda telah menancapkan jack microphone dan headphone ke komputer. 2) Sembunyikan menu efek untuk sementara waktu, siapkan sebuah track audio yang baru. 3) Beri nama track dengan rekaman, lalu klik Enable track for recording. Gambar 3. 130. Menyiapkan track untuk perekaman 4) Jika microphone telah terkoneksi dengan benar, secara otomatis akan tampil menu yang mendefinisikan penggunaan audio. Gambar 3. 131. Definisi audio device 5) Aktifkan Solo Track, secara otomatis track audio yang lain akan di-mute. 6) Pindahkan CTI ke bagian awal, lalu klik tombol record. 7) Pastikan microphone telah diatur posisinya menghadap ke mulut, lalu tekan tombol Play, dan mulailah merekam. Prosesnya akan ditandai dengan deteksi suara yang naik turun. Gambar 3. 132. Proses perekaman suara

8) Tekan tombol Stop untuk menyudahi proses rekaman, secara otomatis track rekaman akan tampil di Timeline panel. Gambar 3. 133. Track rekamandan Timeline panel Untuk meng-export audio anda perhatikan langkah-langkah berikut: 1) Siapkan track yang telah anda beri efek atau edit. Sebagai contoh penulis menggunakan track narasi dan musik yang telah diedit pada latihan sebelumya. 2) Klik menu File >Export >Media. 3) Non aktifkan pilihan Export Video, pilih Format : Window Wavefom, lokasi penyimpanan secara otomatis disamakan dengan proyek, lalu klik OK. Gambar 3. 134. Export setting 4) Secara otomatis program Adobe Media Encoder CS4 akan diaktifkan, lalu klik Start Queue untuk menjalankan antrian, tunggu sampai proses selesai. 5) Jalankan hasil export menggunakan Media Player. File terletak di My Documents di folder Project files dengan nama Audio.wav.

b. Mengubah Source Chanel Audio Dengan mengganti default track format pada Source channel mapping, Anda dapat dengan mudah mengubah channel audio dari stereo ke mono atau sebaliknya. Perhatikan langkah berikut: 1) Buatlah sebuah proyek baru, tentukan Location di Project files, beri nama Latihan Audio, klik OK. 2) Pilih Presets: DC-NTSC Standard 48 khz, beri nama Squence Audio, lalu klik OK. 3) Klik menu Edit > Preferences > Audio 4) Ganti Default Track Format menjadi mono, lalu klik OK. Gambar 3. 135. Mengubah source channel mapping 5) Selanjutnya Anda Import file Cloud fish.mov dari folder Project file ke dalam Project panel. 6) Perhatikan gambar di bawah pada properti file anda terlihat channel audio pada file telah berubah menjadi 2 Mono. Gambar 3. 136. Melihat properti File Cloud Fish

7) Selanjutnya coba drag file ke Timeline panel. 8) Jika tidak menemukan track audio, yang harus dilakukan adalah menggeser slider panel audio. Track sudah ditambahkan secara otomatis. Gambar 3. 137. Mencari track audio Source panel merupakan panel penting untuk preview/editing baik video/audio sebelum file diletakkan dalam Timeline panel. Berbeda dengan video, audio dalam source panel menampilkan grafik yang menunjukkan gelombang suara. 1) Pastikan proyek sebelumnya masih aktif. 2) Import file Latar.wma ke dalam Project panel. Gambar 3. 138. Meng-import file Latar.wma 3) Klik dua kali untuk menampilkan klip dalam Source panel. Gambar 3. 139. Audio dalam Source Panel 4) Tentukan in dan out point kira-kira seperti gambar di bawah.

Gambar 3. 140. Menentukan in dan out point 5) Untuk memindahkan klip ke Timeline panel, anda dapat men-drag bar di tepi grafik atau pada ikon audio. 6) Sekarang anda coba tampilkan klip movie Cloud fish.mov dalam Source panel. 7) Tentukan in dan out point klip movie kira-kira seperti gambar di bawah. Karena merupakan klip movie yang mengandung video dan audio, anda dapat menentukan in dan out point pada masing-masing track. Gambar 3. 141. Menentukan in dan out point movie 8) Caranya tahan tombol Alt, lalu drag In/Out point, secara lansung in/out point akan terpisah di mana bagian atas adalah track video, sedangkan bawah audio. Teknik ini juga berlaku untuk memilih track audio/video yang ter-link. E. Rangkuman Dari materi kegiatan pembelajaran Teknik Pengolahan Audio dan Video, dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Kamera video adalah kamera elektronik untuk menangkap gambar bergerak dalam format video. Setiap kamera video terdiri dari tiga bagian, yaitu lensa, body camera dan video camera recorder. Peralatan kamera untuk produksi film terbagi menjadi tiga, yaitu consumer, prosumer dan professional.

Selamat belajar

TUTORIAL MEMBUAT BUMPER FILM DI ADOBE AFTER EFFECT

Sebelum kita memulai materi tutorial membuat bumper film di adobe after effect cs6, sebaiknya kalian mengerti dahulu apa itu after effect. sekarang coba kalian baca dahulu artikel di bawah ini.

PENGERTIAN ADOBE AFTER EFFECT

      Adobe After Effects adalah salah satu software compositing yang populer dan telah digunakan secara luas dalam pembuatan video, multimedia, film dan web. After Effects terutama dipakai dalam penambahan efek khusus seperti efek petir, hujan, salju, ledakan bom, dan efek khusus lainnya. After Effects telah membantu para praktisi perfilman Hollywood dalam menghasilkan film-film dengan efek khusus yang spektakuler. Spawn, Titanic, Deep Rising, The Jackal adalah beberapa judul film yang telah memanfaatkan potensi After Effects.

Adanya kesamaan interface antara After Effects dengan keluarga Adobe yang lain seperti PhotoShop memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam pemakaiannya. Integrasi After Effects bersama dengan PhotoShop, Illustrator, dan Premiere akan menghasilkan karya yang sebelumnya sulit dibayangkan untuk diwujudkan. Pada versi terbarunya, After Effects 6. Berbagai fitur yang lebih memudahkan bagi para profesional dalam menghasilkan efek khusus yang inovatif namun dengan tengat waktu yang terbatas.

Beberapa fitur yang terdapat di adobe after effects diantaranya :

  1. Preset yaitu ukurang yang akan digunakan pada project anda (kalau anda memilih preset maka akan mempengaruhi “Width And Height” secara otomatis akan muncul sesuai yang anda pilih) misalnya anda mau membuat project untuk tune telivisi atau periklanan telivisi maka anda harus menggunakan (PAL D1/DV Square Pix, 768 x 576), apabila untuk pembelajaran dapat menggunakan ukuran (Medium, 320 x 240) Pixel Aspect Ratio gunakan “Square Pixels”.
  2. Frame Rate yaitu perhitungan frame per second artinya misalnya anda menggunakan 30 FPS jadi anda dalam satu detik menggunakan 30 gambar, tapi standar Televisi Indonesia menggunakan 25 FPS. Jepang juga menggunakan 25 FPS untuk pembuatan film kartun.
  3. Resolution yaitu untuk menentukan hasil gambar yang akan dibuat nantinya, didalamnya terdapat berbagai pilihan diantaranya, Full, Half, Third, Quarter, dan Custom. Ini juga mempengaruhi besar kecilnya RAM. Apabila kita menggunakan RAM yang standar misalnya 128 maka kita dapat memilih resolution “Full” tapi dengan catatan tidak menggunakan image yang banyak, karena dapat menambah berat ketika pengerjaan.
  4. Start Time Code yaitu jika anda mengakses project dengan menulis 0.00.01.00, maka pembuatan project anda akan mulai pada menit ke 1.
  5. Duration yaitu untuk menentukan akhir waktu project yang dikerjakan (perlu diketahui dalam suatu periklanan 1 detik saja adalah uang maka harus berhati-hati dalam memperhitungkan ini, jika perusahaan televisi meminta untuk membuatkan project 15 detik maka anda harus membuatnya tepat 15 detik, tidak boleh lebih atau kurang)
  6. Anchor Point yaitu untuk menggeser image tetapi tidak berjalan.
  7. Position yaitu untuk menggeser dari arah samping kanan atau kiri atau juga bisa dari atas kebawah.
  8. Scala yaitu untuk mengecilkan atau memperbesar image
  9. Rotation yaitu untuk membuat image berputar
  10. Opacity yaitu untuk mengatur image menjadi transparan

Jendela tool didalam After Effects anatara lain, selection tool(v), rotation tool(w), orbit camera tool(c), brush tool(ctrl+b), clone stamp tool(ctrl+b), eraser tool(ctrl+b), pen tool(g), hand tool(h), dan banyak yang lainnya.

setelah kalian membaca artikel diatas, sekarang mari kita mencoba membuat bumper film yang sederhana di adobe after effect.

TUTORIAL MEMBUAT BUMPER FILM DI ADOBE AFTER EFFECT:

  1. buka dahulu after effect kalian.
  2. buat komposisi baru, dengan cara pilih “compotiton -> new composition” atur preset menjadi HDV/HDTV 720.
  3. jika sudah pilih horizontal type tool untuk menuliskan judul dari film kalian.
  4. atur lah size dan posisi text supaya berada di bagian center / tengah dari lembar kerja kalian.
  5. klik tombol option yang berbentuk segitiga di layer text. lalu klik animated kemudian pilih : scale,opacity dan blur untuk animasi dari text kita nanti.
  6. atur scale dan blur sesuai kebutuhan kalian, dan ubah opacity menjadi 0.
  7. kemudian pilih more options, ubah lah anchor point grouping menjadi line dan grouping alignment menjadi 35%.
  8. untuk menganimasikan teks tersebut kalian bisa pilih range selector lalu tambah kan key frame di bagian offset.
  9. jika sudah selesai menganimasikan text tersebut kalian bisa buat layer baru sebagai backgroundnya, dengan cara klik kanan di bagian bawah layer text lalu pilih new kemudian solid, buat warna background menjadi gelap.
  10. jika sudah tempatkan layer solid 1 tersebut dibawah layer text kemudian buat lagi layer solid dengan warna hitam lalu posisikan layer solid 2 diantara layer text dan layer solid 1.
  11. jika sudah pilih lah elipse tool kemudian double klik tool tersebut, agar layer solid 2 menjadi bentuk lingkaran. kemudian ganti style mask nya menjadi subtract. lalu atur bagian mask feather,mask opacity ,mask expansion sesuai kebutuhan keinginan.
  12. jika background telah dibuat, sekarang kita akan menambahkan cahayanya .dengan cara buat layer solid kemudian pilh effect di layer solid yang baru lalu generate kemudian pilih lens flare. sekarang ubah mode layer yang normal menjadi add, agar animasi dan background terlihat.
  13. selanjutnya kalian tinggal menganimasikan cahaya tersebut sesuai animasi yang diberikan pada teks.
  14. sekarang kita telah selesai membuat bumper filmnya. untuk me-render menjadi sebuah video . kalian bisa pilih compotion kemudian pre-render. atur format video sesuai kebutuhan. jika sudah tekan tombol render dantunggulah hingga proses merender selasai.

Terima kasih banyak pada kalian para pembaca karena telah membaca artikel ini. semoga kalian sukses dalam belajar after effect.

Bumper menggunakan after effect

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, pada tutorial kali ini kami akan membahas mengenai cara membuat video Bumper Opening dengan menggunakan Adobe After Effects CS6.

Bumper adalah animasi pembuka atau penutup dalam sebuah program video yang merupakan animasi pendek yang menggambarkan identitas sebuah acara atau instansi. Dengan adanya bumper tersebut, acara atau instansi tersebut akan mudah dipahami oleh pemirsa tanpa perlu penjelasan yang panjang lebar.

Bumper dibagi menjadi 2 kategori, yaitu bumper in dan bumper out. Bumper in yaitu signature untuk masuk ke segmen dalam program video. dan bumper out yaitu signature tanda segmen itu berakhir. Bumper terdiri dari 3 macam, antara lain :

  1. Bumper atau potongan dalam bagian dan berdurasi 5-10 detik, yang biasanya ditampilkan sebelum atau sesudah break show.
  2. Opening bumper atau bagian pembuka acara dan berdurasi 25-30 detik, bumper ini biasanya ditampilkan pada awal acara.
  3. Promotion bumper sesuai dengan namanya bumper ini dikemas dalam bentuk promosi acara dan ditayangkan pada jam dan acara yang telah di tentukan, dan berdurasi 10-15 detik.

Pada tutorial kali ini, kami menggunakan konsep animasi pada teks dan logo dalam membuat video bumper opening. Ide atau konsep yang digunakan pada video bumper dapat disesuaikan dengan keinginan masing – masing. Berikut ini merupakan contoh langkah – langkah dalam membuat video bumper opening dengan menggunakan software Adobe After Effects CS6.

Bahan yang dibutuhkan untuk video bumper opening (opsional) : logo (kami menggunakan format .png), background

  1. Buat New Composition, kemudian sesuaikan ukuran yang digunakan sesuai keinginan, dengan durasi 15 detik, dan frame rate 25
1

2. Import file background dan logo yang akan digunakan, kemudian atur ukuran dan posisinya

2

3. Aktifkan layer tersebut menjadi 3D layer, lalu animasikan scale dan opacity nya (bisa juga dengan menambahkan rotasi atau yang lainnya sesuai keinginan)

3

4. Lalu atur nilai maupun posisi keyframe hingga dirasa cukup

4

5. Beri Keyframe Assistant, supaya animasi yang sebelumnya telah dibuat menjadi lebih halus

5

6. Buat teks baru, dengan klik kanan, kemudian pilih New dan pilih Text

6

7. Atur jenis font yang dipakai, ukuran font, dan lain sebagainya, kemudian atur posisi teks tersebut

7

8. Kemudian pada layer teks tersebut beri animasi pada posisinya (teks mulai muncul), namun penggunaan konsep animasi dapat disesuaikan dengan keinginan masing – masing

8

9. Pada saat yang bersamaan dengan animsai dari teks tersebut, kami animasikan pula Logo

9

10. Tambahkan animasi opacity pada teks

10

Nah.. itulah cuplikan tentang Tutorial Membuat Bumper Opening dengan menggunakan software Adobe After Effects CS6, untuk lebih lengkapnya silahkan klik disini, terimakasih telah menonton dan semoga bermanfa’at, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

TUTORIAL MEMBUAT BUMPER DI ADOBE AFTER EFFECT

tutorial pembuatan bumper in menggunakan adobe after efectHai gan kali ini pep cuex akan memposting cara membuat bumberin dengan menggunakan adobeafter effect cs3. semoga apa yang pepcuex postingkan dapat bermanfaat bagi agan sekalian… :Dlangkah nya seperti di bawah ini :1. buat compotion baru dengan cara klik menu compotian-new compotion lalu atur ukuranya sesuai dengan yang anda indinkan saja..2. Langkah kedua yaitu import file teks yang telah di buat sebelumnya di adobe photoshop, dengan cara klik menu file-imfort-cari file yang akan di import.jika telah di imfort maka hasilnya akan seperti gambar berikut

   3. langkah berikutnya yaitu memasukan file yang telah di imfort tadi ke compotion seperti berikut

 4. setelah itu beri effect linear wife dengan masuk ke menu effect-transition-linear wife

 5.setelah itu atur seperti berikut, aktifka time line very stop watch di sebelah transition complite dan rubah nilainya menjadi 100 %

 6.lalu geser time line ke detik ke 3 da atur lagi transition complite nya menjadi o % seperti berikut

7. kemudian kita buat layer varu dengan cara layer-new layer. tambahkan effect petir dengan effect Advance lighting ke layer yang baru dan rubah lighting typenya ke strike.lalu nyalakan time very stopwatch di samping direction dan pindahkan ujung derestion dari petir ke ujug di mana teks akan muncul, seperti beerikut

 8. selanjutnya geser ke detik ke tiga dan pindahkan ujung directionnya ke akkhir teks

 9.lalu agar efect menghilang pada detik ke tiga kita rubah opacitinya seperti berikut nyualakan time very stopwatchnya di detik ke 3 masukan nilai opasiti seratus dan detik ke 3.2 nilanya 0

coba play.. pantastik bukann.. setelah itu anda bisa merender nya ke bentuk avi.sekian tutorial bumber in ini somoga bermanfaat dan selamat mencoba.

TUTORIAL MEMBUAT BUMPER VIDEO DENGAN ADOBE PREMIERE

Halo teman-teman. Selamat datang di artikel ini. Hari ini, saya ingin berbagi beberapa  tips yang dapat bermanfaat dalam bidang multimedia broadcasting. Saya ingin berbagi dengan Anda tutorial untuk membuat  bumper video menggunakan software adobe premiere. Di sini saya hanya ingin memberitahu dasar-dasarnya saja. Jadi silakan kembangkan sesuai dengan kreativitas Anda.

  1. Buka software Adobe Premiere dan atur sesuai keinginan.
  2. Untuk memberi judul pada opening, Anda dapat menggunakan “title”. Caranya klik File Menu, lalu Pilih New, lalu pilih title (atau langsung klik ctrl + t pada keyboard).
  3. Kemudian kotak dialog New Title akan muncul. Isi kotak dialog sesuai keinginan Anda.
  4. Selanjutnya, setelah mengklik OK, kotak dialog akan muncul seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Buat teks yang ingin Anda tampilkan di bumper video.
  5. Setelah selesai, simpan judul dengan mengklik ctrl+s pada keyboard. Kemudian tutup kotak dialog. Jadi secara otomatis judul yang Anda buat akan ditempatkan di jendela proyek.
  6. Lakukan lagi dengan cara yang sama untuk membuat judul video lain.
  7. Kemudian tarik dua judul ke dalam kotak timeline seperti yang ditunjukkan di bawah ini.
  8. Untuk menambah kreasi, kita dapat menambahkan efek transisi dalam video. Misalnya seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Kami menambahkan efek transisi melarutkan di awal. Maka video akan tampak transparan ke seluruh gambar dengan lancar.
  9. Kemudian beri efek lain. Disini saya mencoba menggunakan transisi zoom silang seperti gambar di bawah ini.
  10. Nah, jangan lupa menyimpan proyek. Cara mengklik Menu File, pilih Simpan.
  11. Jika Anda ingin melihat hasil dari pembukaan ini, Anda dapat merender video dengan Klik Menu File, lalu pilih Ekspor, klik Movie.
  12. Simpan dan beri nama file video. Tunggu sampai proses rendering selesai.
  13. jika proses rendering selesai, Anda dapat melihat hasilnya dengan pemutar video di windows Anda.

Jadi teman-teman, begitulah cara membuat bumper video. Semoga tutorial ini bermanfaat bagi kalian. Maaf jika tutorialnya masih kurang jelas atau ada yang salah. Terima kasih atas kunjungannya. Have a nice day 🙂

CARA MEMBUAT STORYBOARD YANG DISERTAI CONTOH UNTUK FILM PENDEK

storyboard
Contoh storyboard
contoh storyboard

Setiap film pastinya membutuhkan storyboard, yaitu sketsa gambar yang berurutan sesuai dengan naskah cerita film tersebut. Storyboard digunakan untuk membuat naskah cerita menjadi lebih hidup, dan cerita film tersebut dapat disajikan kepada penonton dengan membawakan pesan dari pembuat film tersebut. Storyboard adalah rangkaian cerita yang memberikan rincian video, dan ilustrasi adegan utama, yaitu bagaimana latar belakangnya, siapa yang akan ada dalam video, dan adegan apa yang akan ditampilkan. Berikut ini akan kita bahas cara membuat storyboard dalam film pendek beserta contohnnya.

1. Memilih media yang paling cocok digunakan untuk dibuat template storyboard.

Anda bisa menggunakan papan putih yang dibagi – bagi perkolom untuk menggambarkan setiap adegan, namun ukuran yang digunakan haruslah yang lumayan besar. Jika ingin menggunakan software, Anda dapat menggunakan “Adobe Illustrator”, “storyboardthat.com”, “Microsoft PowerPoint”, “Amazon’s Storyteller”, atau “inDesign” untuk membuat template storyboard dalam bentuk vertikal maupun horisontal.

2. Membuat daftar kronologi cerita (timeline)

Seperti halnya dalam komik, storyboard yang anda buat juga harus memuat kronologi cerita secara runtut dan tentunya logis. Setiap adegan juga harus dapat menggambarkan dengan jelas tentang waktu dan tempat terjadinya, serta suasana yang ada.

3. Tentukan jalan cerita secara terperinci

Setiap adegan dalam storyboard juga harus mampu menjelaskan cerita secara keseluruhan. Ingatlah bahwa inti storyboard adalah untuk memberikan kejelasan visual dan untuk membuat setiap penonton memiliki pemahaman yang sama. Jika film yang anda buat berdurasi pendek, maka perhitungkanlah berapa banyak adegan yang sudah harus mampu melukiskan jalan cerita secara keseluruhan.

4. Isi deskripsi pada setiap kolom storyboard

Agar setiap adegan pada storyboard anda dapat menggambarkan cerita yang ada pada setiap adegan, tulislah deskripsi bagian – bagian terpenting dari setiap adegan yang ada. Hal – hal tersebut bisa berupa latar belakang, suasana, waktu, tempat, atau pelengkap lainnya yang nantinya ada saat proses pengambilan gambar.

5. Buat dan desain sketsa gambar / adegan film

Mulailah membuat adegan dengan menggambar pada storyboard anda. Karena namanya adalah sketsa, sehingga anda tidak harus menyelesaikan setiap gambar dengan sempurna. Perhatikan juga komposisi, sudut pengambilan gambar oleh kamera, jenis pengambilan film / shot, properti, aktor, dan juga efek khusus yang ada dalam setiap adegan film pendek anda.

6. Tambahkan informasi dan deskripsi penting

Informasi penting ini dapat berupa dialog yang terjadi pada setiap adegan, dan juga berapa lama waktu pengambilan gambar tersebut. Anda juga bisa memberikan nomor pada setiap kolom yang ada agar mudah dijadikan referensi ketika storyboard itu didiskusikan dengan orang lain.

7. Berikan sentuhan akhir dan selesaikan storyboard anda

Pada tahap akhir, berikan sentuhan akhir berupa pengembangan storyboard, pewarnaan, atau juga berpikir dalam tiga poin perspektif. Saat proses pengambilan gambar, berdirilah sedikit jauh dari kamera, dan kemudian berdirilah lebih dekat. Gambar yang lebih jauh dari kamera harus terlihat lebih kecil dengan kaki yang lebih tinggi, dan gambar yang lebih dekat dengan kamera harus terlihat lebih besar dengan kaki yang lebih rendah.

Membuat Skenario

Menulis skenario adalah bagian terpenting dalam proses produksi sebuah film. Skenario termasuk unsur yang dibutuhkan paling awal dan juga paling penting sebagai rancangan membuat film.

Komponen-komponen utama dalam skenario terdiri dari aksi dan dialog. Aksi merujuk kepada “apa yang kita lihat” dan dialog merujuk kepada “apa yang dituturkan oleh tokoh”.

Apa Itu Skenario?
1


Skenario/Screenplay menurut KBBI adalah rencana lakon sandiwara atau film berupa adegan demi adegan yang tertulis secara terperinci atau sebuah naskah cerita yang di dalamnya terdapat uraian adegan, tempat, keadaan, dan dialog yang berurutan.

Skenario bukan hanya digunakan dalam film, melainkan juga untuk program televisi. Sedangkan orang yang membuat skenario disebut scriptwritter. Biasanya, tulisan standar untuk skenario adalah courier ukuran 12. Beberapa program komputer yang dibuat khusus untuk membuat skenario, seperti Celtx, DreamaScript, Final Draft, Movie Outline 3.0, FiveSprockets, Montage, dll.

2
Step by Step Membuat Skenario Film Pendek

Ada beberapa langkah yang diterapkan untuk membuat skenario film pendek. Apa saja? Berikut uraiannya.

1. Persiapan Sebelum Mulai Membuat


Sebelum mulai membuat ada baiknya kamu mencari berbagai sumber referensi skenario yang baik dan berkualitas. Manfaatkan internet untuk melihat contoh-contoh skenario film-film tersebut. Hal ini penting karena paling tidak kamu mempunyai gambaran bagaimana skenario yang baik.

2. Tentukan Target Pengerjaan
4


Hal ini mengenai timeline waktu pengerjaan. Mengelola waktu lebih efisien dan efektif tentu ampuh memotivasi kamu untuk lebih produktif lagi.

3. Menyusun Ide
5


Menyusun ide adalah menentukan tema, judul, dan premisnya Tentukan tema dalam film kamu, tema merupakan suatu garis besar ide dari skenariomu. Setelah mendapatkan tema, maka dari situ judul akan dengan mudah kamu dapatkan.

4. Buat Premis
12


Setelah itu, buat premisnya. Apa itu premis? Premis adalah pernyataan cerita dan masalah yang menggerakan cerita. Dalam sebuah premis terkandung (1) karakter & atributnya, (2) aksi/tindakan, (3) situasi. Biasanya, ketika menulis premis, nama karakter belum disebut, melainkan menjelaskan atributnya. Contoh premis diambil dari film Finding Nemo.

“Seekor ikan badut menantang marabahaya di samudera lepas untuk mencari anak semata wayangnya yang diculik oleh seorang penyelam tak dikenal.”

5. Kembangkan Skenario dan Plotnya
7


Setelah premis sudah dibuat, langkah selanjutnya adalah membuat sinopsis pendek. Jabarkan 1 kalimat yang telah dibuat tadi menjadi 3 kalimat utuh. Tuliskan hubungan sebab-akibat. Ketiga kalimat tersebut haruslah mewakili ketiga babak, seperti nama (1) karakter dan atributnya, (2) deskripsi masalah, serta (3) langkah (action) apa yang harus diambil oleh tokoh utama. Berikut contohnya,

“Marlin, seekor ikan badut pemalu hidup bersama Nemo, anak semata wayangnya yang memiliki sirip tak sempurna. Suatu ketika, sang anak tertangkap jaring nelayan dan dibawa ke Sydney, Australia. Marlin pun harus menempuh perjalanan penuh marabahaya untuk menemukan kembali anaknya.”

6. Jabarkan menjadi Sinopsis Panjang
11

Setelah dibuat menjadi 3 kalimat pendek, kalimat-kalimat tersebut jabarkan lagi menjadi 3 paragraf yang menjabarkan detail ceritanya. Masing-masing kalimat di langkah sebelumnya bisa kamu jadikan topic sentenceTopic Sentence adalah kalimat utama yang menjadi patokan pada kalimat-kalimat selanjutnya. Kalimat pendukung harus tetap bersinggungan dan memperkuat topik utama.

Contoh:

“Marlin, seekor ikan badut pemalu hidup bersama Nemo, anak semata wayangnya yang memiliki sirip tak sempurna.

Dikembangkan menjadi:

“Marlin, seekor ikan badut pemalu hidup bersama Nemo, anak semata wayangnya yang memiliki sirip tak sempurna. Ia sangat menyayangi dan menjaga Nemo karena ia satu-satunya anak yang selamat dari suatu kejadian di masa lalu. Sementara itu, Nemo mulai kesal karena ia merasa ayahnya berlebihan dalam menjaga dan melindunginya.

7. Buat Treatment (Cerpen)

Langkah selanjutnya adalah menjabarkan lagi tiga paragraf tersebut menjadi cerpen (cerita pendek) yang terdiri dari beberapa paragraf. Namun, tetap fokus pada sinopsis panjang dan premis yang telah dibuat sebelumnya. Jangan lupakan struktur utama ceritamu.

8. Membuat Skenario
10


Setelah membuat cerpen, minimal kamu telah memiliki 9 paragraf cerita pendek hasil pengembangan dari sinopsis panjang yang sudah dibuat di tahap sebelumnya. Masukan kesembilan paragraf tersebut ke dalam urutan adegan (scene). Adegan (scene) dibagi sesuai dengan latar tempat dan waktu. Apabila suatu situasi terjadi dalam satu tempat dan waktu, maka ia dihitung sebagai satu adegan. Jabarkan ceritamu ke dalam urutan latar waktu dan tempat. Lalu tulis kejadiannya dengan semakin detail. Misalnya:

Scene 1 – Dapur Kos – Siang

Scene 2 – Kamar Tidur – Malam

Scene 3 – Sekolah – Pagi

Dan seterusnya…

Jika kamu sudah memiliki urutan cerita sesuai dengan latar waktu dan tempat. Kini kamu tinggal menuangkannya ke dalam format naskah.

Nah, itu dia beberapa langkah sederhana yang dapat kamu lakukan untuk mulai membuat skenario film pendekmu sendiri. Bagaimana? Apakah langkah di atas cukup membantu?

Buat kamu yang tertarik mau belajar menjadi scriptwritter profesional di bidangnya

8 JENIS INTELEGENSI YANG WAJIB DIKETAHUI

“Jangan Minta Buah Mangga Pada Pohon Rambutan, Tapi Jadikan Setiap Pohon Berbuah Manis” (M.Syafei)
Bu Rida sangat emosi ketika siswanya yang bernama Ruli tiap sebentar menengok jam di dinding ruangan kelas. Guru yang mengajar mata pelajaran matematika itu merasa bahwa Ruli tidak serius dengan pelajaran yang diajarnya. Akan tetapi siswa tersebut sangat antusias mempelajari cara bermain gitar dan musik pada mata pelajaran seni budaya. Ketika acara perpisahan sekolah, Ruli yang paling peduli dan sibuk. Bu Rida merasa siswanya telah membeda-bedakan pelajaran.
Ilustrasi di atas sering dialami oleh guru. Siswa yang menyenangi mata pelajaran tertentu dan tidak menyukai pelajaran lain. Apakah hal tersebut normal? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan gegabah. Sebaiknya diketahui terlebih dahulu masalah intelegensi atau kecerdasan yang dimiliki seseorang termasuk siswa.
Intelegensi yang biasa disebut juga dengan kecerdasan adalah daya reaksi yang cepat dan tepat, baik secara fisik ataupun mental terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru (KBBI,2008). Jadi intelegensi itu bagaimana seseorang mampu memberikan respon terhadap hal yang baru atau memanfaatkan pengalaman yang telah ada dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya.
Selanjutnya Gardner dalam ginnis (2008) menngatakan bahwa Intelegensi tidaklah sama dengan benda yang bisa dilihat dan dihitung atau sesuatu yang bersifat konkrit. Intelegensi itu merupakan potensi yanga akan diaktifkan atau tidak yang tergantung kepada nilai dari budaya tertentu, kesempatan yang ada (tersedia) dalam budaya itu dan keputusan yang di buat secara personal oleh individu, guru atau pun masyarakat.
Ada delapan intelegensi yang dimiliki seseorang, tetapi hanya satu yang paling menonjol. Bagaimanakah kita mengetahui intelegensi yang dominan dimiliki seseorang? dibawah ini dipaparkan delapan intelegensi serta ciri-cirinya sebagai berikut.

  1. Intelegensi Linguistik
    Orang yang memiliki intelegensi ini menyukai membaca dan menulis. Suka berpikir dengan kata-kata dan sangat hobi merangkainya. Di saat orang lain kesulitan dalam mencari ide, si Linguistik ini sudah menulis sekian paragraf. Ia penyuka cerita, puisi dan lirik. Memorinya untuk merekam nama, tempat, tanggal, lirik, puisi dan hal-hal yang yang kecil sangat bisa diandalkan.
  2. Intelegensi Logika dan Matematika
    Seseorang yang memiliki intelegensi diatas sangat muda melihat pola. Untuk pembelajaran matematika tentang pola dan barisan, ia juaranya. Penyuka ide yang abstrak. Permainannya adalah hal yang berhubungan dengan strategi dan teka-teki logika. Bila disuruh menjumlahkan angka-angka, ia bisa menyelesaikan diluar kepala. Dalam pikirannya selalu ada pertanyaan besar dan tidak dipikirkan orang lain. Suka menggunakan komputer serta membuat alat untuk menguji benda yang tidak dipahami oleh orang lain. Berpikirsecara HOTS yaitu melihat hubungan antar ide.
  3. Intelegensi Spasial
    Pemilik intelegensi yang menonjol dalam Spasial ini akan berpikir dalam image dan gambar. Ia akan mudah mengingat letak suatu benda, suka menggambar dan merancang, membangun dan juga melamun. Ia sangat mudah membaca peta dan diagram juga mengerjakan teka-teki. Perhatiannya sangat kuat bahkan terpesona dengan mesin. Ia mampu meniru gambar dengan akurat.
  4. Intelegensi Musikal
    Anda terkejut saat siswa bersiul-siul dalam belajar? Jangan marah! Ia memiliki Intelegensi Musikal yang sangat menonjol. Anak yang dominan memiliki intelegensi ini ia menyukai nyanyian, melodi, dan memainkan sebuah instrumen. Ia sensitiv terhadap suara di lingkungannya dan perlu musik sewaktu belajar.
  5. Intelegensi Kinestetik
    Duh, guru sering dibuat pusing oleh anak yang menonjol dalam intelegensi ini. Ia tidak mau diam karena itu sering disebut anak bandel dan tidak disiplin. Anak ini akan mengingat melalui sensasi fisik. Keistimewaannya ia mempunyai intuisi tentang jawaban ujian serta bagus dalam olahraga atau yang bersifat acting. Di samping itu ia sangat bagus berkomunikasi melalui isyarat. Pelajaran yang paling diidolakan adalah yang berhubungan dengan fisik, simulasi, dan permainan. Meniru seseorang sangat mudah dilakukannya.
  6. Intelegensi Interpersonal
    Guru sangat menyenangi siswa yang patuh, memahami orang dengan baik, mudah bekerja sama, dan bagus dalam memimpin. Jika bertemu dengan siswa dengan ciri-ciri seperti itu, berarti intelegensinya yang menonjol adalah Interpersonal. Ia mudah mengerti dengan orang lain dan punya kemampuan lebih dalam masalah sosial. Jika ada teman yang bermasalah, ia jadi penengahnya.
  7. Intelegensi Intrapersonal
    Anak yang menonjol dalam intelegensi ini suka bekerja sendiri. Ia sangat percaya diri dan tahu kekuatan dan kelemahannya. Ia tipe orang yang berkemauan kuat serta punya pendapat pribadi yang kuat.
  8. Intelegensi Naturalistik
    Di dalam lingkungan kita, ada anak-anak yang kuat perhatiannya kepada flora dan fauna serta mengenali dan membedakan pola di alam. Ia senang memelihara binatang yang oleh orang lain mungkin hal yang membuat repot saja. Anak yang mempunyai hobi seperti itu berarti ia menonjol dalam Intelegensi Naturalistik.
    Demikianlah delapan intelegensi beserta ciri-cirinya. Dengan mengetahui jenis intelgensi ini -yang disebut juga dengan teori Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) – maka pendidik mampu mengoptimalkan potensi siswa. Dalam hal ini, semenjak tahun 1926 di Sumatra Barat, M.Syafei dengan INS-nya telah menerapkan pembelajaran dengan filosofi yang terkenal “Jangan Minta Buah Mangga Pada Pohon Rambutan, Tapi Jadikan Setiap Pohon Berbuah Manis” (M.Syafei)
    Sumber : Ginnis, Paul. 2008. Trik & Taktik Mengajar. Jakarta : Indeks

Perancangan Film Pendek

PERANCANGAN FILM PENDEKKEGIATAN PEMBELAJARAN 1 JENIS-JENIS FILM

  1.      Pengertian FilmFilm adalah gambar-hidup yang juga sering disebut movie. Film secara kolektif sering disebut sebagai sinema. Sinema bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebetulnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas sebagai seluloid.

  

2.      Sejarah Film Internasional

Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar dapat melukis gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut dengan kamera.Film adalah gambar yang bergerak. Adapun pergerakannya disebut sebagai intermitten movement, gerakan yang muncul hanya karena keterbatasan kemampuan mata dan otak manusia menangkap sejumlah pergantian gambar dalam sepersekian detik.Film yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang hingga hari ini merupakan ‘perkembangan lebih jauh’ dari teknologi fotografi.Thomas Alva Edison (1847-1931) seorang ilmuwan Amerika Serikat penemu lampu listrik dan fonograf (piringan hitam), pada tahun 1887 terinspirasi untuk membuat alat untuk merekam dan membuat (memproduksi) gambar.

      Alat yang dirancang dan dibuat oleh Thomas Alva Edison itu disebut kinetoskop (kinetoscope)           yang berbentuk kotak berlubang untuk menyaksikan atau mengintip suatu pertunjukan. Lumiere     bersaudara kemudian merancang peralatan baru yang mengkombinasikan kamera, alat memproses       film dan proyektor menjadi satu. Lumiere Bersaudara menyebut peralatan baru untuk     kinetoskop   itu dengan “sinematograf” (cinematographe). Peralatan sinematograf ini kemudian dipatenkan pada    tahuna 1985.  Film pertama kali dipertontonkan untuk khalayak umum dengan membayar,                   berlangsung di Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis pada 28 Desember 1895.
Pada awalnya, hanya dikenal film hitam putih dan tanpa suara atau dikenal dengan sebutan “film bisu”. Masa film bisu berakhir pada tahun 1920-an, setelah ditemukannya film bersuara. Film bersuara pertama diproduksi tahun 1927 dengan judul “Jazz Singer”, dan diputar pertama kali untuk umum pada 6 Oktober 1927 di New York, Amerika Serikat. Kemudian menyusul ditemukannya film berwarna di tahun 1930-an. Perubahan dalam industri perfilman jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem penglihatan mata, berwarna, dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata. Dengan kehadiran VCD dan DVD (Blue-Ray), film dapat dinikmati di rumah dengan kualitas gambar yang baik, tata suara yang ditata rapi, yang diistilahkan dengan home theater.Dengan perkembangan internet pula , film juga dapat disaksikan lewat jaringan Superhighway. Di sisi yang lain, film dipakai sebagai media penyampai dan produk kebudayaan. Hal ini bisa dilihat di negara Prancis (sebelum 1995), Belanda, Jerman, dan Inggris.

3.      Sejarah Perkembangan Film di Indonesia

Film Indonesia pertama kali dikenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang dengan tema film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag.Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film lokal pertama kali diproduksi pada tahun 1926, dengan judul “Loetoeng Kasaroeng” yang diproduksi oleh NV Java Film Company, adalah sebuah film cerita yang masih bisu. Kemudian, perusahaan yang sama memproduksi film kedua dengan judul “Eulis Atjih”. Setelah film kedua ini diproduksi, kemudian muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film (Semarang) yang memproduksi “Setangan Berlumur Darah”.Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Pertengahan ‘90-an, film-film nasional yang tengah menghadapi krisis ekonomi harus bersaing keras dengan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Apalagi dengan kehadiran Laser Disc, VCD dan DVD yang makin memudahkan masyarakat untuk menikmati film impor. Namun di sisi lain, kehadiran kamera-kamera digital berdampak positif juga dalam dunia film Indonesia, karena dengan adanya kamera digital, mulailah terbangun komunitas film-film independen. Film-film yang dibuat di luar aturan baku yang ada. Pada tanggal 19 Desember 2009, film “Laskar Pelangi” meraih penghargaan sebagai film terbaik se-Asia Pasifik di Festival Film Asia Pasifik yg diselenggarakan di Taiwan. Film ini memberikan semangat baru dalam pembuatan film di Indonesia.
4.      Menurut Jenis cerita Filma.      Film cerita (fiksi), merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita  yang dikarang dan dimainkan oleh aktor dan aktris.b.      Film non cerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya. Film non cerita ini terbagi atas dua kategori, yaitu:·      Film Faktual: menampilkan fakta atau kenyataan yang ada, dimana kamera sekedar merekam suatu kejadian.·      Film documenter : selain fakta, juga mengandung subyektifitas pembuat yang diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa, sehingga persepsi tentang kenyataan akan sangat tergantung pada si pembuat film dokumenter tersebut.
Menurut Orientasi  Pembuatana.      Komersil danb.      Non komersil
Menurut Teknik  Pembuatana.      Film yang dibuat sesuai kaidah pembuatan film.b.      Film Eksperimental adalah film yang dibuat tanpa mengacu pada kaidah-kaidah pembuatan film yang lazim. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimentasi dan mencari cara-cara pengucapan baru lewat film.c.       Film AnimasiFilm Animasi adalah film yang dibuat dengan memanfaatkan gambar (lukisan) maupun benda-benda mati yang lain, seperti boneka, meja, dan kursi yang bisa dihidupkan dengan teknik animasi.
Menurut Tema Film (Genre)a.      Drama, tema ini lebih menekankan pada sisi human interest yang bertujuan mengajak penonton ikut merasakan kejadian yang dialami tokohnya, sehingga penonton merasa seakan-akan berada di dalam film tersebut.b.      Action, tema action mengetengahkan adegan-adegan perkelahian, pertempuran dengan senjata, atau kebut-kebutan kendaraan antara tokoh yang baik (protagonis) dengan tokoh yang jahat (antagonis), sehingga penonton ikut merasakan ketegangan, was-was, takut, bahkan bisa ikut bangga terhadap kemenangan si tokoh.c.       Komedi, tema film komedi intinya adalah mengetengahkan tontonan yang membuat penonton tersenyum, atau bahkan tertawa terbahak-bahak.d.      Tragedi, film yang bertemakan tragedi, umumnya mengetengahkan kondisi atau nasib yang dialami oleh tokoh utama pada film tersebut. Nasib yang dialami biasanya membuat penonton merasa kasihan/prihatin/iba.e.      Horor, film bertemakan horor selalu menampilkan adegan-adegan yang menyeramkan, sehingga membuat penontonnya merinding karena perasaan takutnya.

5. Film ‘Mainstream’Pengertian Istilah film ‘mainstream’ ditujukan kepada film-film yang diproduksi oleh studio-studio besar yang bertujuan menghibur masyarakat dengan meraup keuntungan sebesar-besarnya, dan biasanya berdurasi panjang (90-100 menit).

6. Pelaku Industri Film

a.      Produser, adalah orang yang mengepalai studio. Orang ini memimpin produksi film, menentukan cerita dan biaya yang diperlukan serta memilih orang-orang yang harus bekerja untuk film yang dibuat di studionya.b.      Sutradara adalah orang yang memimpin proses pembuatan film (syuting), mulai dari memilih pemeran tokoh dalam film, hingga memberikan arahan pada setiap kru yang bekerja pada film tersebut sesuai dengan skenario yang telah dibuat.c.       Penulis Skenario, Orang yang mengaplikasikan ide cerita ke dalam tulisan, dimana tulisan ini akan menjadi acuan bagi sutradara untuk membuat film.d.      Penata Fotografi , dalam menjalankan tugasnya mengambil gambar (shot), seorang juru kamera berada di bawah arahan seorang sutradara.e.      Penyunting, adalah orang yang bertugas merangkai gambar yang telah diambil sebelumnya menjadi rangkaian cerita sesuai dengan skenario yang telah dibuat. Pada proses ini, juga dilakukan pemberian suara (musik) atau special effect yang diperlukan untuk memperkuat karakter gambar atau adegan dalam film.f.        Penata Artistik, artistik dapat dibedakan menjadi penata latar, gaya, dan rias.g.      Pemeran, posisi pemeran yang juga disebut sebagai bintang film ini, secara kelembagaan, tidaklah begitu penting karena seorang pemeran harus tunduk dan melakukan segala arahan yang diberikan oleh sutradarah.      Publicity Manager , menjelang, selama, dan sesudah sebuah film selesai dikerjakan, para calon penonton harus dipersiapkan untuk menerima kehadiran film tersebut.

7. Film Independen (Indie)

Pengertian Kata independen (bahasa Inggris) yang berarti: merdeka, berdiri sendiri, berjiwa bebas, tidak dikuasai/dipengaruhi kekuatan lain. Film indie adalah film yang diproduksi dan didistribusikan tanpa mengikuti kaidah perfilman yang telah baku (konvensional).

Film Independen di IndonesiaFilm independen (indie) yang dimaksud adalah film-film alternatif di luar film-film ‘mainstream’, yang produksi dan distribusinya berdasarkan semangat independen para pembuat film  yang cenderung berkarakter dekonstruktif dan eksperimental.Film indie di Indonesia muncul sebagai alat komunikasi suatu komunitas atau individu untuk berekspresi. Faktor-faktor lain yang mendorong gairah pembuatan film-film indie di Indonesia, sama dengan yang terjadi di negara-negara lain di Asia yaitu tidak tersedianya media untuk berekspresi. (Garin Nugroho, Berpikir Merdeka dan Berkarya Mandiri, Kompas, Minggu, 9 Juni 2002).
Karakter Film IndependenTema-tema sederhana, yang justru dengan kesederhanaannya dapat menembus ketidaksederhanaan, yang luput dari perhatian masyarakat. Karena sifatnya sebagai alternatif, bukan komersil, membuat film indie penuh dengan eksplorasi subyektif dari si pembuat.Pembuat film  memiliki kebebasan berekspresi menuangkan segala kreativitas imajinasinya dalam karya film, sehingga menghasilkan film-film yang tidak biasa (tidak konvensional).
Berdasarkan durasi atau lamanya sebuah filma.      Film pendek biasanya dibawah 60 menitb.      Film panjang lebih dari 60 menit, lazimnya 90-100 menit

8. Perbedaan Seni Peran Film dengan Seni Teater

·      Film (drama, sandiwara):a.   Film tidak memerlukan pengucapan vokal yang cukup kuat, karena diperkuat atau diambil oleh microphone.b.   Emosi tidak perlu kuat, karena akan diperkuat oleh kamera yang mengambil secara short shot atau close up.c.    Make up cukup tipis, karena akan diperkuat oleh kamera.d.   Pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan di ceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai seperti yang dikehendaki oleh sutradara.
·      Teatera.   Pengucapan vokal harus sangat kuat, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling belakang.b.   Emosi atau perasaan harus ekstrem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan paling belakang.c.    Make up harus ekstrem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan make up harus terlihat hingga penonton di barisan paling belakang.d.   Adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah. Melakukan kesalahan pada satu adegan atau dialog, maka akan merusak semua performa yang sedang ditampilkan.

Semeru

Gunung semeru merupakan gunung tertinggi pulau jawa, gunung semeru merupakan pendakian yang lumayan lama dan sangat menyenangkan kala itu. Selama 4 hari menyatu dengan alam yang sangat indah merupakan pengalaman yang tidak terlupakan begitu saja, mungkin kapan atau entah kapan lagi untuk bisa mendaki gunung semeru yang indah, melihat ranu kumbolo saat matahari terbit melihat hamparan bunga yang menambah sangat indah di mata para pemdaki. Sungguh kuasa Ilahi yang maha sempurna, ya Tuhan terima kasih atas karuniaMu dapat menikmati salah satu ciptaanmu yang begitu gagah nan indah, semoga kelak bisa kesana lagi aaamiiin…